Oleh: Harits Al-Fharizi | 17 April 2011

The King’s Speech : Antara Sikap Berani Jujur & Usaha Pantang Menyerah


Bisakah anda  bayangkan jika seorang pemimpin suatu Negara tidak bisa ber-pidato di depan rakyatnya?, di karenakan ‘berpenyakit’ gagap dalam berbicara, memang hal seperti ini jarang terjadi dan mungkin hanya sekali terjadi di dunia ini yaitu di Inggris. Hal kecil yang ternyata memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hidup banyak orang.

Film yang di angkat dari kisah nyata ini memang tersaji dalam tampilan yang tidak membosankan. Cerita yang unik, gambar yang segar membawa para penonton dalam rasa lucu yang berubah menjadi haru. Awalnya ketika mendengar seorang pemimpin berbicara gagap memang terasa lucu, tapi setelah penterjemahan cerita membawa penonton menelusuri sebuah pilihan hidup yang menjadi sulit karena gagapnya seorang pemimpin maka keadaan menjadi haru dan sangat menyentuh hati.

Adegan awal film dibuka dengan penampilan Pangeran Albert (diperankan Colin Firth), yang merupakan putra kedua dari Raja George V, dalam menyampaikan pidato yang di temani oleh istrinya Elizaberth (Helena Bonham Carter) di Stadion Wembley, 1925. Yang ternyata meresahkan ribuan rakyat yang mendengarkan pidato itu.

Diangkat dari kisah nyata, film The King’s Speech berkisah tentang King Geoge VI yang gagap dan tertekan karena harus menjadi raja. Ketika ayahnya, King George V meninggal, sebenarnya David, The prince of Wales, kakak kandung Albert yang menjadi raja, namun karena terlibat skandal dengan seorang wanita, David harus mengawini wanita tersebut dan menyerahkan tahta pada Albert.

Namun sejak empat tahun sebelumnya, Albert terserang penyakit gagap. Sulit sekali baginya untuk bicara di depan umum. Berbagai terapis didatangkan ke istana untuk mengobatinya, namun tidak ada yang cocok dengan Bertie (panggilan sayang Albert di kalangan keluarga) yang temperamen.

Hingga suatu ketika, Elizabeth, istri Bertie menemukan Lionel Louge yang mengaku sebagai seorang dokter dan meminta tolong untuk menerapi suaminya. Lionel yang memiliki sikap asertif bersedia menerima Albert, asal terapi dilakukan di ruangan praktiknya.

Di sinilah konflik dan pertentangan antara Lionel dan Bertie terjadi. Sebagai pangeran, Bertie merasa memiliki harga diri yang tinggi, tentu ia tak mau disuruh atau dilarang, sementara Lionel tak peduli apa latar belakang sang pasien, kalau mau diterapi maka harus mengikuti caranya.

Bahkan Albert awalnya tersinggung sewaktu Lionel memaksa menyapanya dengan ‘Bertie’. “Itu panggilan di keluargaku” katanya. Tapi Lionel keukeuh. Ia bahkan menjanjikan Bertie takkan gagap lagi setelah berobat kepadanya. Pada hari pertama terapi, Lionel memberikan buku berisi naskah Hamlet ‘To be or not to be’. Pada awalnya Bertie gagap membacanya, namun kemudian, Lionel menyerahkan headphone untuk dipasangkan di telinga Bertie dan diputarkan musik Mozart ‘The Marriage of Figaro’.

“Bagaimana mungkin aku bisa membaca ini sementara telingaku mendengarkan musik?” tanya Bertie yang merasa sangsi.

“Otakmu akan mengetahui apa yang dilakukan mulutmu” jawab Lionel.

Kendati ragu, Bertie menurut. Sementara telinganya mendengarkan musik Mozart melalui headphone, mulutnya membaca Hamlet dan direkam oleh Lionel. Namun belum selesai dibaca, Bertie marah dan memutuskan pulang.

“Tunggu,” kata Lionel yang lalu menyerahkan piringan hitam rekaman suara Bertie, “Rekamannya gratis”

Bertie sudah memutuskan takkan lagi berobat pada Lionel, tetapi ketika di rumah ia mendengarkan rekaman piringan hitam itu, ia dan Elizabeth terkejut, karena Bertie bisa membaca dengan lancar. “Gagap tidak datang tiba-tiba, pasti ada proses psikologis yang mendahuluinya,” mereka teringat analisa Lionel.

Akhirnya dengan merendahkan hati Bertie bersedia meneruskan terapi dengan Lionel. Cara yang dilakukan Lionel memang unik. Ia tidak hanya fokus pada kemampuan bicara dan membaca Bertie, tapi Bertie dibimbingnya katarsis untuk mengalirkan emosi negatifnya yang terpendam selama ini. Sebagai seorang pangeran yang kelak menjadi raja tentu Bertie banyak bersinggungan dengan protokol dan peraturan.

Bahkan ketika kecil Bertie menunjukkan bakat kidal, ia diperintahkan untuk menggunakan tangan kanan demi kesopanan. Bertie pun terlatih untuk menjaga sikap dan image, sehingga ketika sesi terapi tiba dan Bertie merasa kesal kemudian memaki, Lionel mempersilahkannya meneruskan ceracaunya itu. Bahkan 40 menit sebelum pidato tentang perang Inggris terhadap Jerman karena tidak setuju atas sikap Hitler pada September 1939, Bertie berlatih pidato 9 menit dengan Lionel, dan di sana ia memaki, sampai berdansa tanggo dan walz segala untuk mengusir ketegangan.

Ketika waktu pidato tiba, ia hanya berhadapan dengan micophone yang disiarkan ke seluruh Inggris. Dalam ruangan itu hanya ada Lionel dan Bertie, “Ayo Bertie, anggaplah kau membaca hanya untukk” Lionel menenangkannya. Akhirnya pidato tersebut berjalan cukup lancar, walau di awal Bertie sempat gugup.

“Kau masih gugup di huruf W,” kata Lionel.

“Tidak apa, justru aku harus memasukan W itu, supaya rakyatku tahu itu aku” candanya.

Sejak itu mereka bersahabat, bahkan ketika Bertie dan pihak istana tahu kalau Lionel tidak punya gelar dokter, tapi hanya seorang purnawirawan perang yang memiliki keahlian menerapi orang bicara, kendati marah, Berti tetap mempertahankan posisinya sebagai terapis pribadinya.

Mereka bersahabat hingga akhir hayat, dan Lionel pun diangkat menjadi a Commander of the Royal Victorian Order pada tahun 1944.

Jika anda belum menonton film ini maka saya menyarankan anda untuk menontonya. Pelajaran yang dimiliki oleh film ini sangat banyak. ada dua hal yang membuat saya kagum pada film ini, yang pertama kekaguman saya pada Lionel yang tidak memandang latar belakang orang di depannya, bila benar ia katakan benar, bila salah ia katakan salah. Sikap jujur dan berani yang jarang dimiliki orang-orang saat ini.

Dan kekaguman kedua pada Pangeran Albert menampilkan sifat pantang menyerah dengan tekat yang berawal dari sebuah kewajiban yang menjadikan dirinya sebuah tanggungjawab besar yang patut di contoh oleh para pejabat di Negeri ini. sifat bertanggungjawab seperti ini memang sangat di perlukan, sehingga dalam bekerja mengabdikan diri dengan rakyat menjadi sungguh-sungguh. Semoga bisa menghibur dalam kelucuan film ini dan membuat kita berpikir panjang tentang arti sebuah perjuangan dan tanggungjawab.

Salam, Harits Aja


Responses

  1. blog yng anda miliki bgus>>>
    ya biarpun saya baru mulai ngeblog!!1

    saya hanya blogwalking>>>
    jika berniat liat blog saya kunjungin balik ya???

    • Terimakasih sudah mampir ke lapak saya, :)
      dn selamat ngeblog….

      insyaAllah nanti sy kunjungi blog anda..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: