Oleh: Harits Al-Fharizi | 21 Januari 2010

Semoga Rindu Tak Sekedar Rindu


”Orang-orang yang sepenuh hati memimpin, menebarkan rasa kasih sayang pada sesama, akan ditulis apa adanya oleh sejarah.”

Ini bukan zaman Harun Ar-Rasyid, yang sangat bisa dan biasa bersenda gurau dengan seorang pemuda pandir, yang kelak dikenal dengan nama si Bahlul. Bahkan ia mau mengambil nasehat-nasehat berharga dari pemuda nyeleneh itu. Bahlul menjalankan fungsi lazim bagi para raja di mana-mana: menjadi penghibur. Ia punya banyak cara untuk membuat Khalifah gembira. Kadang ia sengaja menabrak kaki kursi dan terjatuh, sehingga Khalifah terbahak menyaksikan kemalangannya.

Suatu hari si Bahlul nyelonong seperti biasa ke dalam istana. Tak ada siapa-siapa. Lengang. Di kejauhan terlihat kursi kosong sang Khalifah. Bahlul sempat bergumam, kemana kiranya sang Khalifah. Tapi sejurus kemudian ia langsung duduk diatas kursi itu. Tiba-tiba dua pengawal memergoki, yang segera menyeret Bahlul turun dari kursi itu. ”Dasar anak dungu!”hardik mereka sambil menghajar dengan pentungan. ”Kamu memang kesayangan Khalifah, tapi tingkahmu sudah keterlaluan!” Bahlul melengking, tak sanggup menanggung pukulan di sekujur tubuhnya. Jeritannya yang keras membangunkan Khalifah yang sedang istirahat di kamarnya. Melihat itu, sang Khalifah kaget dan menanyakan apa yang terjadi. Kedua pengawal pun berhenti memukul dan menjelaskan kisahnya.

Anehnya, meski sudah tidak dipukul oleh pengawal, Bahlul tetap berteriak kesakitan. Khalifah pun heran dan memintanya berhenti. ”Berhentilah memekik-mekik!. Pusing kepalaku mendengarnya. Kenapa kamu terus menangis, padahal pengawal sudah tak lagi memukulimu?’ mendengar itu, Bahlul menjawab,”Hamba justru menangisi nasib Baginda.” Khalifah heran,”Mengapa pula kau menangisi nasibku? Apa yang salah denganku?” ”Baginda, hamba duduk di kursi baginda hanya sejenak saja, tapi siksaan yang hamba terima begini pedihnya. Sedang Baginda sudah duduk di tahta itu bertahun-tahun. Hamba tak sanggup membayangkan betapa pedihnya pukulan yang akan Baginda terima kelak.” Mendengar itu, Khalifah menangis tersedu-sedu. Dan berkata,”Lalu apa yang harus kulakukan?” Bahlul bangkit, dan berlari-lari kecil sambil mengacung-acungkan tangannya,”Keadilan, Baginda! Beri keadilan pada seluruh rakyat! Keadilan! Keadilan! Khalifah lalu bersumpah untuk memenuhi permohonan Bahlul.

Seperti dongeng yang melegenda, kisah kekuasaan para pemimpin punya lembaran sejarah yang abadi. Baik atau burukya. Mulia atau hinanya. Betapa di setiap masa selalu ada pemimpin pahlawan. Tapi pada saat yang bersamaan ada saja pecundangnya. Di setiap masyarakat selalu ada pemipin yang adil. Tapi hampir pada waktu yang bersamaan ada juga pemimpin culasnya. Seakan sebuah keniscayaan. Ada orang baik disana, tapi juga banyak orang-orang buruk di sisi yang lain.

Seringnya perlakuan buruk yang menimpa masyarakat, dan perlakuan semena-mena aparatur pemerintahaan menjadikannya bukan lagi hal yang aneh, seakan sudah menjadi kebiasaan dan hal yang wajar. Tetapi kerinduan pada pemimpin yang baik, adil, peduli dan jujur, tidaklah semata hanya akumulasi kegundahan kolektif masyarakat atau rakyat yang melihat dan merasakan ulah para pemimpin yang berulah menjadi bergajul. Tragedi pemimpin sebuah negara hanya sebagaiannya bukan segalanya, meski banyak hal berputar-putar di sana.

Entah mengapa pemimpin dalam level negara seringkali mengambil lebih banyak dari rakyatnya ketimbang dari apa yang layak diterima oleh rakyatnya. kepemipinan yang mereka miliki hanya secuil tanggung jawab, yang tak sepenuhnya kita berikan dengan sukarela. Kalaupun kita menyerahkan segala urusan kepemimpinan pada mereka itupun semua atas dasar-dasar kesepakatan. Setiap dari kita lahir merdeka, Maka pemimpin bukan ruang untuk menindas, menguasai, menganiaya, apalagi, mendzolimi. Kepemimpinan adalah sebuah ruang pojok kecil kehidupan, tempat orang memikul perwakilan amanah orang lain.

Kerinduan pada pemimpin yang adil adalah suara hati yang tulus, kekal dan fitrah dari dasar jiwa. Kerinduan pada pemimpin yang baik adalah kebutuhan jiwa yang alami. Seperti anak-anak yang memimpikan ayah yang damai, ibu yang lapang, meski tinggal di rumah kardus. Meski nasi kelam dengan lauk tak berbumbu dan tak berasa. Kerinduan akan kepemimpinan yang adil adalah gejolak abadi sepanjang masa. Sebab keadilan adalah pijakan yang menjadikan pijakan hidup berada pada edar keseimbangan.

Merindukan pemimpin yang adil, dalam lingkup apa saja, nampaknya seperti memimpikan keajaiban yang amat langka. Ini bukan pesimisme atau apatisme, tapi kian hari kian rumit, kerinduan ini harus kita eja dengan argumen-argumen yang rasional. Sebab di Zaman ketika dusta sudah semakin mewah dikemas dengan segala warna-warni hiasan, menunjuk hidung pemimpin yang benar-benar baik dan adil tidaklah mudah. sebab kepemimpinan telah menjadi mata rantai yang sangat panjang bagi siklus manipulasi, kolusi, dan perselingkuhan politik yang kotor.

kita percaya bahwa setiap legenda tak pernah dusta pada dirinya sendiri. Orang-orang yang sepenuh hati memimpin, menebarkan rasa kasih sayang pada sesama, akan ditulis apa adanya oleh sejarah. Begitupun pula sebaliknya sejarah akan menuliskan daftar hitam pemimpin-pemimpin kejam. lalu secara alami menuliskannya di lembar sejarah hati kita. Apa adanya. Dan bila kerinduan ini tak juga terjawab, biarlah untaian pengaduan ini kita kirimkan kepada Allah yang Maha adil dan Maha Bijaksana.

Kekuatan terdahsyat seorang pemimpin adalah keteladanan
Bukan seberapa hebat ia memimpin orang lain,
Tetapi seberapa hebat ia memimpin dirinya sendiri.
Bukan seberapa hebat ia melarang orang lain,
Tetapi seberapa hebat ia melarang dirinya sendiri.
Dan pemimpin yang baik tidak menuntut bawahannya bekerja dengan baik
Tetapi bagaimana ia melakukan yang terbaik.
Seperti halnya sang Baginda ”Sang teladan Umat” 

Abdullah Zahid Azzam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: