Oleh: Harits Al-Fharizi | 6 Februari 2010

Menjadi Manusia Biasa


Kyai kampungku pernah menasihatiku,”Mas, kalau panjenengan ketemu orang yang lebih muda, artinya panjenengan bertemu orang yang lebih sedikit dosanya. Dan jika panjenengan bertemu orang yang lebih tua, artinya panjenengan berhadapan dengan orang yang lebih banyak pahalanya.”

Hmmm… nasihat seorang kyai kampong, tapi tak layak disebut nasihat kelas kampong. Hari-hari mengajariku untuk terus membentuk diri menjadi seperti nasihat kyai di kampungku.

Di balik sebuah cita.
Beberapa kali saya harus menuliskan cita-cita saya. Ternyata mendefinisikan cita-cita saya menjelma menjadi persoalan yang tidak sederhana. Cita-cita itu buka semakin sedikit. Semakin banyak, tapi semakin tidak definitive. Agak berbeda dengan keadaan di waktu sekolah atau di waktu-waktu yang lalu.

Entah sejak kapan, di beberapa kesempatan, saya menuliskan ‘Menjadi manusia Biasa’ sebagi cita-cita saya. Saya memang sempat ragu. Baikkah menuliskan itu sebagai cita-cita seorang seperti saya? Saya takut ini sebuah kesalahan. Atau justru ada kesombongan di dalam cita-cita itu. Sampai saya kemudian saya menemukan komentar Ali ra. di ‘Nashaihul Ibad’. Begini kata beliau :

“Jadilah manusia paling baik di sisi Allah. (tetapi) Jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu, (dan) jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”

Syekh Abdul Qadir Jailani berkata, “Bila engkau bertemu dengan seseorang hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama dari dirimu dan katakanlah dalam hatimu, “Boleh jadi dia lebih baik di sisi Allah daripada diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.’ Jika anda temui orang yang lebih kecil atau lebih muda dari padamu, maka katakanlah, ‘Boleh jadi anak muda ini tidak banyak berbuat dosa. ‘Jika yang anda temui adalah orang yang lebih tua, maka hendaknya anda ajari hati anda untuk mengatakan, ‘Orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah Swt. ‘Jika anda temuai orang yang lebih bodoh, ajarilah lisanmu untuk mengatakan. ‘Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya. Sedangkan aku durhaka karena pengetahuanku’. Jika orang pintar yang anda temui, maka ‘paksalah’ hati anda mengatakan, ‘Orang ini telah diberi sesuatu yang tidak bias aku raih. Orang ini telah mendapatkan apa yang tidak aku dapatkan. Orang ini telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Dan telah mengamalkan ilmunya.”

Lalu bagaimana kita merasa lebih hebat?
Islam memandang semua manusia dalam kedudukan yang sama, pada awalnya. Kemudia memang akan terjadi perbedaan derajat atau level di hadapan-Nya. Namun yang harus diingat oleh kita adalah bahwa status social, harta, tahta, keturunan atau latar belakang pendidikan bukanlah parameter yang legal. Manusia mulia di sisi-Nya adalah manusia yang paling tinggi kadar ketakwaannya.

Maka, marilah kita lestarikan do’a yang telah kita ketahui :

“Allahumma ja’alni shobuuron wa ja’alni sykuuron wa ja’alni fi ’aini shogiron wa fi a’yunin naasi kabiiron.”

(Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai bersabar dan pandai bersyukur. Jadikanlah aku orang yang hina dalam pandanganku. Dan jadikanlah aku orang yang besar dalam pandangan orang lain.)

Di tengah gemuruh kebesaran ini, saya ingin menjerit. Saya ingin terus mengingatkan. Bukan mengingatkan anda. Tapi mengingatkan diri ini. Terima kasih anda di sini banyak mengingatkan jiwa ini. Saya kerap merasa kerdil di sini. Jazakumullah khairan.

Bisa saja…
Jika anda tersinggung karena hal sepele, bisa saja itu terjadi karena anda memang sedang krisis terhadap hal yang subtansial. Jika anda ingin tampak hebat di mata manusia, bisa saja itu terjadi karena anda sedang tidak mengerti tentang siapa yang lebih bisa menyenangkan anda. Tetapi, anda bisa tampak hebat untuk perkara remeh dan anda bisa tampak remeh untuk perkara hebat. Dan jika anda panic karena tampak bodoh, miskin dan tidak bermatabat, bisa saja itu Cuma karena topeng anda sedikit meleset atau sedikit jatuh.

Harits Azzam

Di sadur dari : Engkaulah Matahariku, Eko Novianto Nugroho.


Responses

  1. Menuliskan itu sudah membutuhkan energi besar bagiku…

    Membacanya lagi di sini, ternyata tetap menguras energi…

    Menjadi manusia biasa memang sulit di era ini… Semoga Allah mudahkan urusan ini.,… Amin,…

    Smg tulisan itu bermanfaat…

    • Alhamdulillah, buku Engkaulah matahariku yang mas Eko tulis telah banyak menjdi pencerahan bagi diri saya, buku yang sanagt bermanfaat, tulisannya sederhana namun bermakna mendalam…. jazakallah khairan..

      terimakasih banyak mas telah “mampir” ke blog ini, terima kasih…

  2. berkali membaca ini…tapi baru memahami hari ini..ternyata…oh ternyata…tak semestinya berbuat angkuh……..syukron laka untuk akh harits…i like this…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: