Oleh: Harits Al-Fharizi | 17 Februari 2010

Terima Kasih


Di tepian laut , di selatan Basrah. Panas menyengat. Serombongan orang hendak pergi menggunakan kapal. Entah kemana. Mereka menumpang ‘kereta air’ milik seorang petani garam. Kendaraan air yang kuno itu seperti kepenuhan penumpang. Miring. Pemilik kapal, sang petani garam itu, berusaha menyeimbangkan posisi penumpang. Ia melihat-lihat, siapa yang bisa dihardik, beberapa saat ia tidak juga menemukan siapa yang layak. Mungkin mereka orang-orang terpandang.

Akhirnya, pemilik kapal itu menemukan satu dari semua penumpang. Seorang lelaki yang berbeda dari yang lain. Di matanya, lelaki itu nampak jelek, dan ada tanda-tanda dirinya hanya orang biasa. Maka dihardiknya lelaki itu, sambil dipukul punggungnya, seraya berkata,”Luruskan badanmu.”

Mendapat perlakuan seperti itu, lelaki itu pun terkejut. Tapi lantas ia berbisik lirih,”Terima kasih ya Allah, segala puji hanya milik Engkau, karena pemilik kapal itu tidak melihat yang paling hina di antara orang-orang ini selain aku.”

Utbah Al-Ghulam. Begitu lelaki itu dikenal. Lengkapnya utbah bin Abaan. Sosok lelaki yang sempat menggocang Basrah. Ia mulanya hanya seorang budak. Tetapi ia sangat terkenal sebagai ahli ibadah, memiliki ketajaman hikmah dalam merindukan akhirat. Sehingga membuat iri banyak orang. Bahkan, majikannya sendiri, hingga para pejabat setempat, seperti Sulaiman bin Ali, seorang panglima perang di masa itu, juga sangat kagum kepadanya.

Ucapan terima kasih seorang Utbah, pada kisah di atas, adalah hasil mekanisme berpikir yang sangat jauh. Ia dipandang hina, direndahkan. Bahkan dimata sang petani garam itu tak ada yang layak untuk dihardik dan dipukul kecuali dirinya. Padahal di basrah orang banyak menghormatinya.

Sebuah terima kasih adalah sikap, sebelum ia menjadi ucapan yang terlihat sangat ringan. Sepotong kata terima kasih adalah keyakinan, sebelum ia meluncur dalam kata-kata yang terlihat sangat biasa. Maka Utbah pun menata jiwanya, merapikan hatinya, mengelola perasaannya, untuk sebuah keputusan berterima kasih, kepada Allah, atas sesuatu, bahkan yang tak menyenangkan. Maka logika terima kasih, memiliki tempat yang rumit dalam psikologi sikap.

Pada proses ketika ia memutuskan berterima kasih setelah dihardik, ditengahnya ada serentetan argumen-argumen yang banyak orang tidak mengerti dan memahaminya. Bahwa baginya tak jadi soal dianggap hina, bila Allah masih memberinya kehormatan. Baginya adalah karunia, bila keshalihan yang ia upayakan, tak pernah dikenal orang, dan menjadi sisi tersembunyi antara dirinya dengan Allah. Baginya tak jadi soal diangap nista dan orang biasa, bila Allah masih menerima do’a dan munajatnya. Begitulah terimakasih mengalir menuju Allah, melewati lorong-lorong pemikiran yang panjang. Lalu, kekuatan argumentasi dan pemikiran, yang melandasi keputusannya untuk mengucapkan terima kasih itu, menjadi pengantar balik bagi efeknya, menuju dalam sanubari hatinya. Seperti sebuah gema, saat kita teriakkan sebuah kata, ia akan kembali beberapa jenak ke telinga kita dalam suara yang sama. Maka Utbah pun begitu tenang, tentram, bersyukur, dan menyimpan sisi bahagianya yang sangat rahasinya bersama Allah Subhanahu wa ta’ala.

Di depan matanya ada seorang lelaki kasar, yang menghardik, tapi mata hatinya meletakkannya sebagai orang yang berperan memposisikan dirinya di mata Allah. Ia disakiti, lalu ia memutuskan untuk berterima kasih yang berargumen kepada Allah, dan terima kasih itu memantulkan efek luar biasanya. Sesuatu yang tak pernah dimengerti oleh sang petani garam itu. Sebut saja kisah di atas, prinsip terima kasih yang luar biasa, untuk sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan pada mulanya.

Lantas, terima kasih untuk sesuatu yang menyenangkan, pun punya prinsipnya yang juga luar biasa. Dalam soal kebajikan yang kita terima dari orang lain, misalnya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengajarkan kepada kita tetntang bagaimana mengelola terima kasih. “Bila kamu mendapat kebaikan dari orang lain, maka balaslah. Bila tidak bisa, maka berdo’alah untuknya (‘jazakumullah’) hingga kamu tahu bahwa kamu telah berterima kasih. Sebab Allah adalah dzat yang maha tahu berterima kasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur.” (HR. Thabrani).

Orang lain yang memberi kebaikan, harus kita balas. Kita diajarkan untuk membalas budi baik orang dengan setimpal atu lebih. Tetapi kita juga diajarkan tentang arus akhir dari terima kasih, adalah do’a kita, agar Allah membalas orang yang memberi kita kebaikan itu dengan balasan yang setimpal,’jazakumullah’, semoga Allah memberimu balasan.

Dalam prisnsip aqidah, tidak ada yang kita terima, dari manusia lain, kecuali bahwa itu juga dari Allah. Dalam do’a yang sangat terkenal, kita diajarkan untuk mengakui, “Ya Allah, tidaklah aku menerima karunia di hari ini, atau yang melalui seseorang dari hamba-Mu, kecuali bahwa itu hanya dari engkau semata. Tiada sekutu bagi Engkau. Maka bagi Engkau segala puji dan bagi Engkau segala terima kasih”

Dua penjelasan di atas menjadi semacam nyawa bagi sebuah etika terima kasih. Sedang sisanya, ucapan terima kasih itu sendiri, yang kita ucapkan secara verbal kepada sesama, merupakan tuntunan sosialnya. Segla karunia datangnya dari Allah, tetapi orang-orang yang menjadi perantara itu, layak mendapat ucapan terima kasih, dan itu merupakan hak yang harus ditunaikan. Itu merupakan bentuk penggandaan manfaat. Artinya, kebaikan yang diberikan orang lain adalah manfaat. Sedang ucapan terima kasih kita kepadanya adalah juga manfaat, bagi diri kita dan dirinya. Penggandaan ini selaras dengan konsep bersyukur: siapa bersyukur, niscaya akan ditambah lagi manfaatnya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Berterima kasih adalah ungkapan verbal yang ringan, mudah, tetapi tidak semua orang menyadari akan kepentingan, urgensi dan nilai-nilai yang ada dibaliknya. Arogansi dan keangkuhan, seringkali menjadi biang utama keengganan seseorang untuk mengucapkan terima kasih. Masyarakat yang tak memiliki tradisi berkata terima kasih, akan mengembangkan tradisi sumpah serapah, memaki, berkata kotor dan tidak pernah bisa menghargai orang lain.

Begitulah terima kasih menjalankan fungsinya, berliku tapi nyata kesudahannya. Landai tapi meninggi menuju puncak maknanya. Sederhana di lahirnya, tapi luar biasa pada filosofi dan prinsip mendasarnya. Terima kasih menorehkan semangat keberartian pada diri orang-orang yang telah berkarya, memberi, membagi dan juga menyediakan bagian-bagian tertentu dari hidupnya untuk orang lain. Tapi juga keberartian kita sendiri, para penikmat kebaikan Allah dan kebaikan orang lain, yang sering kali lupa. Wa Allahu’alam

 

Harits Azzam

Dari berbagai sumber

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: