Oleh: Harits Al-Fharizi | 15 November 2010

Siapa Bilang Jadi Marbot Masjid Nggak Bisa Kaya..


“Mas, di takmir itu kerjanya ngapain aja?” Satu Pertanyaan sederhana yang diajukan oleh adik angkatanku, namun selalu saja membuatku bingung bagaimana harus menjawab, karena bagiku pertanyaan itu sama dengan “apa kontribusi yang kau berikan untuk masjid?” huh, berbicara tentang kontribusi, aku sendiri tak yakin apa yang benar-benar aku kontribusikan untuk masjid ini.

Kau tahu mengapa kawan? Karena bagiku masa ketika aku tinggal di masjid itu, adalah masa yang tak bisa dibilang biasa dalam perjalanan hidupku, dalam pengalamanku. Maklumlah selama ini aku terlalu ‘asyik’ hidup dilingkungan ‘gerombolan bersarung’ atau santri, kehidupan santri sendiri identik dengan ANTRI, bayangkan kawan, mau mandi antri, mau makan antri, mau minum antri, bahkan untuk mencuci baju dan menjemurnya pun harus antri, tapi aku selalu menikmati semua itu kawan, maka tak heran bila terkenal pula semboyan “Ngatri Ala Santri, Ngantri Sampai Mati” toh benar juga kan? Bahkan sekarang kita pun sedang mengantri ‘penjemputan’ untuk kembali pada Sang Ilahi.

Masa ketika aku tinggal di masjid itu, aku beri nama ‘MASA MENJADI ORANG KAYA’. Tentu ini bukan sesuatu yang berlebihan kawan, Karena aku merasa terlalu banyak perlakuan istimewa yang diberikan kepadaku dan aku benar-benar merasa menjadi mahasiswa paling kaya.

Kau tahu mengapa kawan? Karena tak banyak tempat tinggal mahasiswa yang di jaga satpam. Sedangkan di tempat tinggalku 24 jam non stop selalu di jaga oleh 12 satpam yang berkerja bergiliran setiap siang dan malam, jadi aku tak perlu khawatir si ‘Biru’ (nama yang ku berikan untuk sepeda motor kesayanganku) atau barang-barang kepunyaanku akan di ‘dicuri’ orang dan aku pun bisa tidur dengan tenang. Jarang-jarang loh ada mahasiswa yang tidurnya di jaga pak Satpam . Hebatkan… (Matur nuwun sanget kagem pak Imam dkk di pos (ter)depan.)

Ketika orang-orang sulit mencari lapangan untuk berolah raga, bahkan sebagian harus mengocek kantongnya lebih dalam untuk sekedar bermain futsal, untuk 1 jam, 2 jam atau lebih, dan kau tahu kawan, itu biaya yang tak bisa dibilang murah, ya setidaknya untuk ukuran kantongku, itu sudah masuk kategori mahal. Sedangkan di tempat tinggalku, aku bisa berolah raga atau bermain bola setiap pagi, atau sekedar jogging sehabis subuh. Karena di sana tersedia lapangan futsal, yang merangkap menjadi lapangan basket, Mantap kan..

Ketika takmir-takmir di luar sana harus sibuk mengatur jadwal piket harian untuk membersihkan masjid, di masjid tempat tinggalku sudah disediakan seorang CS (Cleaning Servis) yang setiap hari menyapu, mengepel lantai masjid, menyedot debu karpet dan juga menguras kamar mandi, tak lupa setiap minggunya juga menguras kolam penampungan air. Aku benar-benar merasa seperti boss kawan. Dan tentang lelaki sederhana yang biasa membersihkan masjid itu bernama pak Jumakir, lelaki yang telah banyak mengajariku banyak hal, suatu saat nanti akan ku ceritakan tentang kehidupannya yang sederhana namun bersahaja kepadamu kawan…

Bila setiap pagi, sebagian mahasiswa yang tinggal di kos harus rela mengantri mandi, maka aku malah sibuk memilah- milih kamar mandi mana yang akan kupakai mandi, maklumlah di tempat tinggalku tersedia puluhan kamar mandi, tapi tetap saja hanya dua kamar mandi yang menjadi kamar mandi favoritku 

Jika setiap tahun sebagian mahasiswa harus memperpanjang ‘kontrak’ kosnya, dan tentu saja itu perlu mengeluarkan uang kan? belum lagi kalau setiap tahun ‘kontrak’ kosnya dinaikkan, huh bisa-bisa mengocek isi sakunya lebih dalam dan dalam sekali. Sedangkan aku, aku tinggal di kamar yang cukup luas, cukup bagus, ya setidaknya untuk ukuranku itu sudah cukup memuaskan, di kamar itu juga tersedia sebuah Tv, ada juga internet yang non stop 24 jam (ga kalah sama Burjo kan?), tersedia juga aliran listrik dan air. Kau tahu kawan, semua itu FREE.. FREE.. dan FREE.. (pake gayanya Rancho di Three Idiots ) belum lagi tentang biaya bensin sepeda motorku yang dapat ku hemat setiap harinya, karena aku hanya perlu jalan kaki menuju kelas hehehe 

Kawan, kau tak perlu pergi ke bukit bintang, untuk melihat indahnya kota Jogja, karena di tempat tinggalku ada menara yang tingginya kurang lebih empat lantai, di atas menara itu kau bisa melihat panorama kota jogja yang luar biasa, di pagi hari kau bisa melihat indahnya Merapi yang masih berselimut kabut, seakan-seakan merapi dikelilingi laut yang sangat luas. Di malam hari kau bisa melihat kerlap-kerlip bintang dan taburan warna-warni lampu yang menghiasi setiap sudut kota jogja.

Menara itu adalah tempatku mencari inspirasi, tempatku membuang segala gundah dan resah, karena bagiku dengan memandang langit luas, aku bisa menyadari bahwa setiap persoalan dan permasalahan yang menghampiri setiap perjalanan hidupku sebenarnya sangat kecil, karena aku pun kecil, dan bukan siapa-siapa, bukan apa-apa di hadapan Empunya Jagat Raya Ini. Hal inilah yang selalu membuatku tersenyum menjalani hidupku dengan apa adanya.

Jadi bila ditanya “Apa Kontribusi yang kau berikan untuk Masjid?” maka sekali lagi aku bingung dan tak mampu harus menjawab apa. Karena sepertinya aku tak melakukan apa-apa. Kalau pun melakukan sesuatu, itu memang sudah seharusnya dan semestinya kulakukan.

Kawan, Kalau hanya membersihkan sekretariat takmir, melipat mukenah, melipat sarung, merapikan tikar-tikar, menyalakan lampu masjid dan mematikannya, mengisi bak mandi, mencuci piring dan gelas yang kotor, memastikan tampungan air terisi penuh, menjaga loker dan merapikan sandal demi keamanan dan kenyamanan para jama’ah, membeli buku dan membuka perpustakaan setiap jadwalnya, mendirikan tenda setiap akan melaksanakan shalat jum’at, menghitung infak mingguan dan bulanan, membeli kerperluan masjid tiap bulannya, memastikan kajian agama setiap hari dan minggunya, menyiapkan jadwal khatib, mengajar TPA setiap 3 kali dalam seminggu, membuat majalah dinding setiap 2 minggu sekali, membaca hadits setelah ashar, dan juga menyiapkan keperluan-keperluan masjid yang lain.

Kerja-kerja itu memang sudah seharusnya, selayaknya, sak kudune, sewajarnya dan semestinya kami (aku dan teman-temanku yang tinggal di masjid) kerjakan setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulannya. kalau pun ada yang bilang “widiiih rajinnya, wah kompaknya” itu mah biasa-biasa saja, karena kalau dibandingkan dengan fasilitas yang telah “masjid” berikan kepada kami, tentu itu jauh lebih banyak dari pada apa yang kami berikan untuk “Masjid”. Karena sekali lagi aku (kami) sepertinya tidak banyak berkontribusi.

Kalau pun harus berterima kasih, berterima kasilah pada orang-orang yang tidak tinggal di masjid namun ia mau berkontribusi melayani keperluan jama’ah di masjid, tentu aku tak perlu menyebut nama mereka satu per satu di sini kan? Karena aku yakin, nama mereka insyaAllah sudah sangat terkenal dan selalu disebut-sebut di majelis-majelis para Malaikat.. Amiiiiin 

Dan kalau pun harus memuji, pujilah Dia yang selalu memberi ribuan nikmat kepada kita setiap detiknya, coba bayangkan, kalau misalnya Allah ‘menarik’ sedikit nikmatnya dengan memberi beberapa sariawan di bibir kita, apakah kita masih bisa tersenyum ramah menyapa dan menyambut saudara-saudara kita ? Coba kalau badan kita sakit, mana bisa kita berfikir kreatif untuk melahirkan ide-ide cemerlang, jangankan hal-hal yang ‘luar biasa’ bahkan hal-hal yang biasa pun tak akan mampu kita kerjakan. Jadi kalau pun kita merasa melakukan kebaikan dan kebajikan itu juga karena kehendak Allah, tapi kita mah terkadang terlalu cepat GR ( bahasa jawanya : GEDE ROSO ).

Rasanya malu bila harus menceritakan ini kepadamu kawan, karena hal ini selalu saja membuat hatiku risau, apakah kelak Sang Pemilik Tahta menerima ‘bekalku’ yang sedikit ini dan sepertinya hati ini harus segera ‘direparasi’ lebih dalam karena kerusakannya sudah sangat parah, karena seringnya mengkufuri segala nikmat yang telah Dia berikan secara Cuma-Cuma.

Terakhir, aku ingin mengutip kalimat motivasi dari mas Bayu Gawtama untukmu kawan, “Kalau bukan kita yang melakukan kebaikan, maka yakinlah orang lain yang akan melakukannya, karena kebaikan tak pernah menunggu”.

Salam dariku
Harits BSS BAA (Bukan Siapa-Siapa Bukan Apa-Apa)
Sebuah catatan kecil tentang Masjid Al-muqtashidin FE UII

Nb :

Lewat catatan sederhana ini, aku juga ingin mengucapkan banyak terimakasih untuk Pak Jumakir, salah satu orang yang banyak menginspirasiku. Untuk Mas Abdi Rambe terimakasih atas semua pencerahannya, Untuk teman-teman satu asrama di masjid Al-Muqtashidin yang tak pernah lelah membimbingku, Mas Irfan Al-Jagoani(2003), Mas Pambudi (2003), Mas Rukhan Zakaria (2004), mas Agung (2004) dan mas Emha (2005). Untuk para koordinator Takmir pendahuluku Mas Wahid (2003), Mas Umam (2004) dan mas Nanda (2006) matur nuwun untuk ‘transfer’ ilmunya, untuk pak ketua Muhammad Tabrani dan teman-teman pengurus JAM angkatan 2006 terima kasih telah memberi kepercayaan padaku untuk ‘mainan’ di masjid.

Untuk teman-teman di BK Takmir 2008-2009 Aan (2007), Rendi (2007), Afri (2006), dan Apriadi (2008) kalian ku beri 2 jempol, kalian Ruarr Biasa. Untuk teman-teman Founding Father KASAPA Tabe (2006), Len (2006), Arif (2006) dan Ghozi (2006), Aku akan selalu mengingat kalian (coz aku masih punya utang hehe). Untuk Adit (2006), mas Ridwan (2005), mas Riki Polo (2004), Duo Ramones (mas Iid – Mas Bayu) dan mas Wildan (2003) yang telah memberiku banyak ide kreatif, matur nuwun nggeh. Untuk mas Eko (2003) dan mas Ade (2003) matur thank you karena telah memberiku kesempatan mengajar di TPA. Untuk para ustadz dan ustadzah TPA, tetap semangat ya.

Untuk temen-temen yang sekarang menjadi nahkoda di masjid Al-Muqtashidin Faizal (2007), Ali (2009) dan Syamsul (2009) aku yakin kalian bisa lebih baik lagi, dan untuk semua teman-teman yang telah banyak memberikan banyak masukan dan saran, kuucapkan jazakumullah khairan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: