Oleh: Harits Al-Fharizi | 25 Januari 2011

Berbeda, Namun Satu Titik Temu yang Sama


sebelum membaca catatan ini ada baiknya bila sambil mendengarkan sebuah syair dari Outlandish yang berjudul :”Feels Like Saving the World”

Kita tidak harus berpikiran sama
Untuk mencintai sesama

Setiap lelaki, perempuan dan anak-anak di Bumi terlahir merdeka dan sederajat dalam martabat dan hak. Kita semua BERSAUDARA di Dunia ini. kita memiliki akal budi dan kesadaran dan harus rukun satu sama lain.

“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” -Al-Qur’an (49;13)-

 

Setiap diri kita adalah unik dengan cara kita msing-masing, kita semua diberkahi Tuhan dengan bakat yang berbeda-beda dengan cara berpikir yang berbeda-beda pula. Namun jangan sampai semua perbedaan itu membuat kita saling membenci satu sama lain.

Kita harus menerima dan merangkul semua perbedaan kita, karena perbedaan-perbadaan itu yang menjadikan kita manusia. mari kita duduk bersama dan berbicara, agar kita dapat memahami satu sama lain.

Lalu mengapa kebanyakan dari kita bertekad mendirikan satu jenis atau satu cara berpikir? Kenapa kita memerangi mereka yang tak sefaham dengan kita? Seharusnya daripada kita ‘berkelahi’ mengenai perbedaan-perbedaan kita, kita semestinya memperkenankan agama kita untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik dan itu dimulai dari diri kita sendiri.

Untuk memperbarui dunia yang konon sudah rusak ini, kita harus belajar untuk memperbaiki kondisi, karakter dan perbuatan kita. Untuk melakukannya secara efektif, kita harus belajar bersikap jujur kepada diri kita sendiri dengan harapan dapat mengenali diri kita sendiri dan berusaha unuk mensucikannya karena kita akan diadili menurut motivasi dan niat kita.

Jadi kita harus memahami kekuatan motivasi (niat) kita, dan belajar untuk menguasainya karena niat dan tindakan kita dibangun emosi tertentu

Kita digerakan oleh emosi :
– Hasrat/keinginan
– Iman/keyakinan
– Cinta/kasih sayang
– Antusiasme/gairah
– Belas kasihan
– Harapan

Atau emosi seperti :
– Kebencian
– Iri/dengki
– Keserakahan
– Dendam
– Cemburu
– Kemarahan
– Ketakutan

Dan semua emosi itu berlaku kepada setiap pemikiran,, niat, tujuan atau tindakan yang kita lakukan. Secara sederhananya, ketika kita belajar untuk membangun tujuan dan niat kita kepada emosi yang positif, maka kita akan dapat menyembuhkan dunia kita. Dan ketika kita membangunnya dengan (emosi) negative, maka kita akan membunuh kehidupan dunia kita.

Dunia kita membutuhkan cinta, pengertian, keyakinan, belas kasihan, antusiasme, harapan, romansa, hasrat yang lebih. Jika kita memperlakukan satu sama lain dengan kekuatan motivasi (penggerak) itu dan belajar untuk memperbaiki diri kita sendiri, agar tetap menjauh dari kekuatan penggerak negative. Maka kita dapat menjadi contoh positif bagi agama kita.

Sekali lagi kita harus menerima dan merangkul semua perbedaan kita, karena perbedaan-perbadaan itu yang menjadikan kita manusia. Namun apapun yang kita yakini atau dari mana asal kita, kita semua berbagi prisip moral dasar kebaikan, itulah titik temu yang harus kita bangun bersama.

“Tidak ada diantara kalian, yang akan menjadi orang yang beriman, hingga ia mengharapkan bagi saudaranya apa yang diharapkan bagi dirinya sendiri”
-Nabi Muhammad Shallallahi Alaihi Wassalam-

“janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah engkau menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, kasihi tetanggamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri, akulah Tuhan”
-Taurat (19:18)-

“Perlakukan orang lain, seperti yang kalian harapkan meraka akan memperlakukan kalian”
-Yesus-

“Jangan menyakiti orang, sebagaimana itu akan menyakiti dirimu”
-Udana Varga (5:18)-

“Ini adalah kesimpulan dari dharma (kewajiban), jangan melakukan sesuatu pada orang lain yang akan membuatmu sakit jika dilakukan kepadamu”
-Mahabrata (5:1517)-

“Jangan memperlakukan orang lain, yang akan membuatmu marah jika itu dilakukan padamu”
-Socrates-

Pesan-pesan diatas adalah beberapa kebenaran berbeda namun satu titik temu yang sama. Mari duduk bersama, tertawa, berbicara dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan, jenis agama dan aliran maka kita akan menemukan satu titik temu yang sama bahwa Kita semua bersaudara di dunia ini.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”-Al-Qur’an (60:8)

Bagi saya, semua muslim adalah saudara saya dalam islam dan semua non- muslim adalah saudara-saudara saya dalam kemanusiaan. Perlakukanlah satu sama lain dengan sopan dan rasa hormat dan memahami bahwa tindakan ekstrisme adalah salah.

Namun jika kita memang belum sanggup atau belum bersedia untuk saling membantu atau salang mencintai antar sesame, mengapa tidak kita coba saja untuk tidak saling membenci dan dan tidak saling menyakiti saja terlebih dahulu?

Kita tidak harus berpikiran sama
Untuk mencintai sesama

Harits
Dari Berbagai sumber dan film documenter The Arrivals dan Phase 3


Responses

  1. namanya jg manusia, ade..
    nurut kk si, km moderat
    emg ada org2 tertentu yang pasang kawat berduri di sekitar mereka
    yg ada di dalam kawat temen mrk, yg di luar…

    • matur nuwun mas…
      padahal Al-Qur’an pun tidak meminta kita untuk masuk sekte tertentu, seperti label buatan manusia yang tak pernah akan dibenarkan.

      Kita semua tahu bahwa islam dalam tata bahasa arab adalah ‘haal’ (kondisi ruhani), dalam tata bahasa Inggris ‘kata keterangan’ dan pada dasarnya islam bukan kata benda!.

      Islam menjelaskan tentang cara hidup atau keadaan hati, ini tentang apa yang kita lakukan dan apa yang kita percaya dalam hati kita. Bukan apa yang dilabelkan pada diri kita dari luar.

      astagfirullah, smoga sy dn mas ndak masuk kedalam org2 Ashabiyah..
      Amiiin

  2. apik,rits…
    pokoknya ni tulisan kamu bgt dah

  3. HUH.. HATI” DENGAN ORG INI !!!!!
    PLURALISME YG NGAKU MUSLIM

    DASAR PENGANUT LATEN PLURALISME !!!!!!
    HATI” PROPAGANDA PROPAGANDA

    PLURALISME & SYIAH SAMA AJA
    SAMA” KE NERAKA !!!!!!

    • Terima kasih atas komentarnya
      jazakallah khairan…….

      Banyak dari kita yang menyerang ke masalah-masalah mazhab/sekte, dan tidak benar-benar memahami pesan agama islam yang sebenarnya. Harus saya jelaskan terlebih dahulu bahwa saya bukan Syiah, bukan pula Sunni, saya adalah seperti apa yang diminta oleh Al-Qur’an untuk menjadi seorang MUSLIM.

      bila sodara Jhoni, membaca Al-Qur’an surat Al-Mumtahannah ayat 8 dan 9, maka akan ada titik terangnya, bukankah kita sesama muslim, dan bukankah kitab Al-Qur’an kita sama?

      di Piagam madinah juga ada hikmah yg luar biasa, sodara jhoni bs membacanya…

      namun apapun itu, kita adalah sodara….
      salam

      • NGAKU AJA !!!
        KAGAK USAH SOK BIJAK !!!
        DASAR SYIAH LATEN
        PLUS TAMBAH PENGANUT PLURALISME
        PARAH !!!!!!!!!!

        MATI AJA LOE !!!!!

    • Terima kasih untuk semuanya, sy ucapkan jazakallah khairan, semoga Tuhan merahmati kita…

      terimakasih sudah mau mampir ke blog saya, maaf bila ada yg tidak berkenan di hati sodara…

      terima kasih Terima Kasih

      • sabar yo,rits….
        ak lbh tw cara mu beribadah drpd org yg mengkritik mu di atas. mgkn teman kita itu bisa menjelaskan knp dia begitu antipati thdp syiah & pluralisme, khususny pd ak yg mmg ga paham agama. drpd buang pikiran dan tenaga utk sesama muslim…knp ga berdebat aja dengan org yg ateis ataupun agnostik

      • Terimakasih Kang Eza
        tp pd akhirnya sy hnya bisa berkata
        “setiap kita punya pola pikir masing2”

        jd dinikmati saja🙂

      • bagi ku sih ga masalah setiap kita punya pola pikir sendiri,,,asal ga maksain pola pikir itu ke org lain,,,apalagi plg merasa benar dg perspektif ny sendiri.

        coba aja liat ajaran Syekh Siti Jenar dg Manunggaling Kawula Gusti-nya…pendalaman filsafat ny begitu tinggi tp tdk diimbangi dg ilmu pengikutnya…shg bisa terjadi penafsiran yg salah…..wajar jika para sunan “memerangi” ajarannya

        trus berkaca jg pada Baginda Nabi saw. yg membedakan cara bicara beliau dg Ali atau dg Abu Hurairah…krn keduanya mempunyai tingkat kecerdasan yg berbeda

      • Yup.. sy sepakat dengan mas, jgn sampai kita memaksakan kehendak kita, sprti dlm Qur’an surat Al-baqarah ayt 256..

        yah, setiap kita punya kadar masing2 dlm menerima informasi…
        sprti sbda nabi “berdakwalah dengan bahasa kaummu”

        terimakasih mas Eza

  4. iyah
    setuju kite semua mmg brsaudara di dunia ini

  5. mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
    harits………..semoga tulisanmu bisa menjadi pencerah…………….

    • terima kasih mb…
      catatan ini, krn hbis nonton The Arrivals mb…

      sebenre sy minta masukan scara spesifik dr mb…
      tp ya ndak pa pa mb, matur nwun mb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: