Oleh: Harits Al-Fharizi | 15 Maret 2011

Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku?


“aku akan selalu ada untukmu, Sayang, aku nggak bisa hidup tanpamu…” Gubrakkk….!!! aku terjungkal. Sucikah bisikan itu? jangan-jangan karena kau tajir, mapan, keren, pintar, atau populer? Apakah engkau masih kan selalu ada untukku andai aku hanya jalan kaki, dengan tubuh tanpa Bvlgari, dan dompet isi seribu? Andai aku jalan kaki, di bawah terik matahari, bermandi keringat, menahan lapar, bertubuh dekil nan buluk, dengan dompet kempes yang tak bisa untuk beli sebuah air kemasan gelas, akankah kau, kau, dan kau yang kini selalu tersenyum manis dan mendengarkanku, tetap mau menyapaku, tersenyum padaku, menyentuh lenganku, merangkulku, memelukku, menciumku, dan menganggapku manusia?” Itulah sepenggal bait paragraf yang terdapat di novel Andai Aku Jalan Kaki,Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku? karya Edi Mulyono.

Novel ini berisikan kumpulan-kumpulan cerpen yang digarap dengan bahasa yang ringan dan enak dibaca. Klo ndak percaya silahkan cari aja novelnya (kalo ada temen yang punya mending pinjem aja,hehe -Penghematan boy-). Kali ini saya mencoba mengulas judul novel dengan realita dikehidupan nyata, real of life. Kalau di novel diceritakan andai aku jalan kaki sampai bermandi keringat, menahan lapar, bertubuh dekil nan buluk, dengan dompet kempes yang tak bisa untuk beli sebuah air kemasan gelas yang isinya cuma seribu rupiah mungkin terkesan lebay.com dan mendramatisir keadaan hehehe. Tapi dikehidupan nyata, hal itu bukan tidak mungkin. Karena roda kehidupan selalu berputar. Ada saat seseorang berada dipuncak kesuksesannya, ada kalanya ia mengalami kondisi terburuk dalam hidupnya. Sebutlah kehilangan pekerjaan atau kena PHK (sarkasnya dipecat!!!). Memang PHK bukanlah akhir dari segalanya ataupun kiamat. Dunia belum berakhir kalau kata Shaden (masih inget ama Band yang satu ini to?).

Dengan kondisi tanpa pekerjaan, kehidupan ekonomi seseorang sangat terganggu. Seolah tanpa masa depan (kalo yang ini beneran lebay.com,haha). Kondisi yang tak sama seperti dulu lagi, akankah kau selalu ada untukku kawan?

Bagi saya buku ini sangat menarik untuk dibaca, selain bahasanya yang renyah dan sederhana, juga tersembunyi hikmah yang luar biasa, bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukalah terletak pada harta, namun kekayaan yang sesungguhnya adalah saudara/sahabat yang selalu ada untuk kita, ketika kita sedang dalam masa kesuksesan juga ketika kita dalam masa keterpurukan.

 

Monggo, semoga catatan ringkas ini bisa bermanfaat…

cayooo

Harits Azzam

Iklan

Responses

  1. Wew

  2. sipb..:)
    oiaa..
    untuk harganya berapa yah???

    • yup trimakasih
      kemarin wktu ada pameran buku di jogja,
      sy beli bukunya seharga 20rb….

  3. dimna ni beli bukux di gramet ada gak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: