Oleh: Harits Al-Fharizi | 17 Maret 2011

Yang paling Jelek


Ada suatu kisah seorang santri yang menuntut ilmu pada seorang Ustadz. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. Ia menghadap Ustadz untuk ujian tersebut.

“Hai Fulan, engkau telah menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian. Kalau engkau bisa menjawab berarti lulus “, kata Ustadz.

“Baik Ustadz, apa pertanyaannya ?”

“Engkau cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari dirimu. Engkau aku beri waktu tiga hari “.

Kemudian santri itu meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Ustadz-nya. Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Bejo (yang namanya Bejo jangan tersinggung ye) pemabuk berat yang dapat dipastikan tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, “Inilah orang yang lebih jelek dari aku. Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus “. Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. “Belum tentu, sekarang Bejo mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Allah memberinya hidayah (petunjuk) dan dia khusnul khotimah (akhir yang baik) dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat dikehendaki suul khotimah (akhir yang buruk), bagaimana? Dia belum tentu lebih jelek dari aku.”

Hari kedua, santri itu jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri itu bergumam, “Ketemu sekarang yang lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi ” . Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis ‘isya, dia merenung, “Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat berat kelak di Akhirat. Aku tidak lebih baik dari anjing itu”.

Hari ketiga, santri menghadap Ustadznya. Ustadznya bertanya,

“Sudah dapat jawabannya muridku ?”

“Sudah ustadz”, santri menjawab.

“Ternyata orang yang paling jelek adalah saya ustadz”.

Sang Ustadz tersenyum, “Kamu aku nyatakan lulus”.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah:

Sebesar apa pun kemaksiatan dan dosa seseorang, jika memasuki pintu taubat, Allah tetap menyambutnya dengan Pintu Ampunan yang agung, bahkan dengan kegembiraanNya yang Maha dahsyat kepadamu.

Karena sebesar langit dan bumi ini, jika anda penuhi dengan dosa-dosa anda, dikalikan lagi dengan lipatan jumlah penghuni planet ini, kelipatan dosa itu, sesungguhnya ampunan Allah masih lebih besar dan lebih agung lagi.

Oleh sebab itu kita harus membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah, bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa hebat, merasa suci, merasa paling mulia dan merasa sombong dengan ibadahnya.

Mengapa ? Karena ada dosa yang lebih tinggi lagi dibanding maksiat, yaitu dosanya orang takjub atau kagum pada diri sendiri. Bahkan Rasulullah saw. Bersabda : “Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling aku takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ‘ujub (kagum pada diri sendiri).” (Syarah Al-Hikam, Ibnu Athaillah)

Bahkan betapa banyak orang yang dulunya ahli maksiat lalu diangkat derajatnya menjadi manusia mulia di hadapan Allah Ta’ala. Begitu juga banyak ahli ibadah tetapi berakhir hina di hadapanNya gara-gara ia sombong dan merasa lebih dibanding yang lainnya.

Orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, apakah ia aktivis muslim, da’i, ustadz, kyai, ulama’, muballigh, ketika mereka menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar, lantas dirinya merasa lebih baik dari yang lain, adalah wujud kesombongan yang hina pada dirinya.

Dibanding seorang preman yang bertobat, pelacur yang bertobat, maling yang bertobat dengan kerendahan jiwa di hadapan Allah, mereka yang merasa paling Islami itu justru menjadi paling hina, jika ia tidak segera bertobat.

Nabi Adam as, mendapatkan kemuliaan luar biasa sebagai Nabi, Rasul, Khalifah, Abul Basyar, justru ketika sudah turun di muka bumi, karena tindak dosanya di syurga. Namun Nabi Adam bertobat dalam remuk redam jiwanya dan hina dina hatinya di depan Allah, justru Allah mengangkat dan menyempurnakan ma’rifatnya ketika di dunia, bukan ketika di syurga dulu.

Nabi Adam as, menjadi Insan Kamil ketika di dunia, bukan ketika di syurga. Oleh sebab itu terkadang Allah mentakdirkan maksiat pada seorang hamba dalam rangka agar si hamba lebih luhur dan dekat kepada Allah. Wacana ini dilontarkan agar manusia tidak putus asa atas masa lalu dan nodanya di masa lampau, siapa tahu, malah membuat dirinya naik derajat.

Wacana mengenai naiknya derajat paska maksiat, hanya untuk orang yang sudah terlanjur maksiat, agar tidak putus asa dan tetap menjaga rasa baik sangka kepada Allah Ta’ala (husnudzon). Apalagi di akhir zaman ini, jika disurvey, membuktikan bahwa orang yang kembali kepada Allah dengan taubatnya, biasanya didahului oleh kehidupan yang hancur-hancuran, maksiat yang bernoda.

Akhir zaman ini juga banyak dibuktikan, betapa banyak orang yang merasa bangga diri dengan ahli ibadahnya, ketekunan dan taatnya, diam-diam ia ujub dan sombong, merasa lebih dibanding lainnya.

Sifat hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa mulia, merasa sombong, ujub, apalagi merasa hebat dibanding yang lainnya.

Karena itu rasa hina dina, apakah karena diakibatkan oleh kemaksiatan atau seseorang mampu menjaga rasa hina dina di hadapan Allah, adalah kunci terbukanya Pintu-pintu Allah Ta’ala, karena kesadaran seperti itu, membuat seseorang lebih mudah fana’ di hadapanNya.

Oleh karena itu selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang berhak sombong adalah Allah SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/makhluk lain yang sama-sama ciptaan Allah SWT.

Buat sahabat-sahabatku, tenanglah, kalian tetap ngganteng-nggateng  dan cantik-cantik kok, karena hal yang sesungguhnya paling buruk dan membahayakan adalah ketika kita merasa paling baik, dan menuduh yang lain paling buruk.

wa Allahu ‘alam

Harits Azzam

 

 

Referensi

-Siapa yang paling jelek? (artikel dr bunga rampai)

-Kitab Al-Hikam, karya Ibnu Athailllah




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: