Oleh: Harits Al-Fharizi | 10 Mei 2011

Uang Tunjangan ‘Presiden’


Abu Bakar Ra. Adalah seorang pedagang kain, dan ia menghidupi keluarganya dengan perdagangan itu. Sehari setelah dilantik menjadi khalifah, dengan membawa beberapa helai kain di tangannya, ia berjalan menuju pasar untuk berjualan seperti biasanya. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan Umar Bin Khattab Ra. Umar Bin Khatab Ra. Bertanya, “Mau kemana engkau?” Jawab Abu Bakar Ra., “Mau ke pasar.” Sahut Umar Ra, “Jika engkau sibuk berdagang, lalu siapakah yang akan menjalankan tugas kekahlifahan?” Jawab Abu Bakar Ra,”Lalu bagaimana aku harus membiayai keluargaku?” Umar Ra berkata, “Mari kita menjumpai Abu Ubaidah (Yang dijuluki penjaga amanah oleh Nabi Sallallahu alaihi wassalam) agar ia menentukan gajimu.”

Keduanya pun menjumpai Abu Ubaidah Ra, dan ditetapkanlah tunjangan untuk Khalifah Abu Bakar Ra. Yag jumlahnya sama dengan tunjangan seorang Muhajirin lainnya. Tidak kurang dan tidak lebih dari itu.

Suatu hari, istrinya berkata kepada Abu Bakar Ra, “Aku ingin sekali memakan sedikit manisan.” Jawab Abu Bakar Ra,” aku tidak memiliki uang untuk membelinya.” Kata istrinya,”Jika engkau mengizinkan akan kuhemat uang belanja sehari-hari agar dapat membeli manisan itu.” Abu Bakar Ra pun menyetujuinya. Maka istri Abu Bakar Ra menabung sedikit demi sedikit uang belanjanya setiap hari. Beberapa hari kemudian, uang itu pun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan istrinya. Setelah terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut. Namun Abu Bakar Ra berkata, “Tampaknya dari pengalaman ini, uang tunjangan kita dari Baitul-Mal telah melebihi keperluan kita.” Lalu Abu Bakar Ra mengembalikan uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul-Mal. Dan sejak hari itu, uang tunjangan khalifah Abu Bakar Ra dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat istrinya.

(Kisah diatas disarikan dari Kitab : Shirah Shahabat karya Maulana Muhammad Zakaria Rah.a)

Pelajaran:

Meskipun seorang khalifah dan tokoh masyarakat, Abu Bakar Ra tetap ingin berdagang, karena dengan pekerjaan itu ia berharap dapat mencukupi keperluan keluarganya, sebagaimana yang telah ia umumkan ketika diangkat menjadi Khalifah. Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah R.ha, ketika Abu Bakar Ra dilantik menjadi khalifah, ia berkata di hadapan orang-oarang,”Wahai kaumku, kalian telah telah mengetahui bahwa aku mencari nafkah dengan berdagang. Keuntunganku telah mencukupi keperluan keluargaku. Tetapi sekarang aaku telah disibukkan dengan urusan kaum muslimin, sehingga untuk keperluanku dan keluargaku terpaksa dipenuhi dengan Baitul Mal.”

Walaupun demikian, ketika Abu Bakar Ra akan meninggal dunia, ia berwasiat kedapa Aisyah R.ha agar mengembalikan seluruh uang tunjangan yang telah dikeluarkan Baitu –Mal untuk keperluan keluarganya selama menjadi khalifah dan menyerahkannya kepada kahlifah berikutnya. Anas Ra meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar Ra meninggal dunia, ia tidak meninggalkan apa pun, baik dirham maupun dinar. Ia hanya meninggalkan seekor unta betina untuk diambil susunya, sebuah mangkok, dan seorang pelayan. Sahabat lainnya berkata, “Ia telah meninggalkan sehelai selimut dan sehelai kain alas. Benda-benda itu telah diserahkan kepada Umar Bin Khattab Ra ketika ia menggatikanya sebagai khalifah.” Kata Umar Bin Khattab Ra.,” Semoga Allah mencucuri rahmat kepada Abu Bakar, ia telah menunjukkan jalan yang sulit diikuti oleh para penggantinya,”

Salam, Harits Azzam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: