Oleh: Harits Al-Fharizi | 16 Agustus 2011

Mungkin Hanya Sekedar Lampu Teplok


Mungkin cintaku hanya seperti lampu teplok ini
Tentu jauh, bila dibandingkan dengan bulan yang menyinari malammu
Namun aku yakin suatu saat nanti,
Ketika rembulan terhalang kabut
Dan malam kian menggelap
Kau akan mengingatku dan datang menyalakan api cintaku
Lalu membagi kebahagiaanmu dengan cahaya temaram teplok ini

********

Kawan, semoga puisi di atas dapat mewakili ribuan orang yang pernah begitu berjasa dalam hidup kita. mungkin pada waktu itu kehadiran mereka memang benar-benar kita perlukan dan butuhkan, namun setelah berjalannya waktu jasa-jasa mereka dengan begitu mudah hilang tersapu detik-detik jam dan kita pun dengan seenaknya melupakan nama-nama mereka dan juga melupakan sumbangsih mereka dalam keberlanjutan hidup kita, bahkan seakan-akan mereka tak pernah ada.

Kawan, dunia yang kecil ini ternyata telah banyak membuat kita lalai. Kita seperti hidup di banyak dunia, dan dengan mudahnya kita bisa melupakan perjalanan yang telah kita lalui. Padahal kita tetap hidup di dunia yang sama, dalam fase yang sama pula. Hanya perbedaan suasana dan keaadan yang memisahkan kita dari ragam bantuan dan peran-peran orang lain, yang pernah sangat berjasa dalam hidup kita. Tapi begitulah, dunia yang kecil ini ternyata telah banyak membuat kita lalai.

Kawan, dalam realitanya, kita sangat begitu mudah mengingat jasa orang – orang yang berharta dan bertahta. Jasa mereka begitu mudah dikenang. Jasa-jasanya begitu mudah terlihat. Namun sebaliknya, kita dengan mudah melupakan jasa-jasa orang yang kita anggap “orang kecil”. Walau terkadang sumbangsih mereka untuk masyarakat tidak bisa dibilang kecil. Padahal jika kita berbicara tentang peran dan jasa, seharusnya tak dikaitan dengan faktor harta dan tahta. Sebuah jasa tetaplah jasa yang berguna bagi orang lain, dan seharusnya dikenang tanpa melihat bobot orang yang melakukan.

kawan, ada sebuah pertanyaan sederhana, yang mugkin jawabanya tak sederhana. Kawan, masih ingatkah kita kepada guru yang dulu mengajarkan kita mengeja huruf yang menjadikannya kata lalu dengan indahnya menjadi sebuah kalimat yang tertata? Lalu dengannya kita bisa membaca dunia dan mengetahui seisinya.

Kawan, mari kita pandai membaca, meneliti dan menekuri perjalanan hidup hingga langkah terakhir di sini. Sesungguhnya perjalanan kita tersambung karena banyak peran dan jasa-jasa orang yang mengiringi kita. Lebih jauh lagi, kita harus pandai, meneliti dan menekuri perjalanan hidup manusia di sekeliling kita, hingga manusia yang hidup di mana saja karena sebenarnya kehidupan itu selalu berjalan dengan silih bergantinya peran-peran manusia yang boleh jadi tidak dianggap, tapi begitu penting kedudukannya. Penghargaan atas peran dan jasa boleh jadi dianggap sepele, kecil dan sederhana oleh orang lain. Terlebih jika peran dan jasa itu secara perbuatan memang seperti tidak bergengsi. Tidak memerlurkan keahliaan khusus untuk melakukannya. Namun jasa tetaplah jasa. Dan manfaatnya tetaplah harus dikenang dan dihargai.

pesan saya : Siapa pun kita, tak perlu merasa tak membutuhkan orang lain.

Harits Al-Fharizi
Catatan Pinggir Jalan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: