Oleh: Harits Al-Fharizi | 9 Oktober 2011

Gawangku Taruhanku : Antara Kenekatan Dan Komitmen


Seperti halnya waktu yang tega meninggalkanmu
Pergi dan terus berlalu
Namun yakinlah, aku akan selalu setia menjagamu
Aku rela jatuh bangun asal kau tak terganggu
Bahkan kalau perlu, aku rela terluka untukmu
Karena bagiku kau adalah taruhanku..
-Gawangku taruhanku-

Seperti gambar di atas, pada catatan ini saya ingin sedikit mengulas tentang betapa pentingnya peran seorang kiper –baca :penjaga gawang- bagi tim sepak bola. Bagi saya menjadi kiper adalah sebuah pilihan dan tanggungjawab, karena bukan saja fisik yang prima yang dibutuhkan, namun mental juga harus lebih disiapkan.

Ada satu pertanyaan sederhana untuk anda ‘Siapakah orang yang paling dihujat ketika kesebelasan kesayangan anda kemasukan gol?’ hmm… hampir dipastikan semua telunjuk pasti mengarah kepada penjaga gawang, walau mungkin terjadinya gol tersebut bukan 100% akibat kesalahannya, Dan ‘Siapakah orang yang paling dipuji ketika kesebelasan anda memenangi sebuah pertandingan?’ hmm.. saya pastikan semua telunjuk pasti mengarah kepada sang pencetak gol dan bukan sang penjaga gawang, karena amat langka penjaga gawang yang mampu mencetak gol.

Maka mental sang penjaga gawang bisa jadi lebih diutamakan, coz dialah orang yang paling mungkin dihujat bila kemasukan gol dan orang yang mungkin paling dilupakan ketika tim kesebelasannya merayakan kemenangan, walau mungkin selama pertandingan itu, dia benar-benar berjibaku mengamankan gawangnya.

Bicara tentang kiper, saya jadi teringat seorang kawan yang memang berposisi kiper dalam tim futsal kami. Namanya Irfan Muslim, pemuda berperawakan agak gemuk dan murah senyum itu memang paling jago kalau soal tangkap-menangkap bola, rela jatuh bangun mengamanankan gawangnya dari sergapan musuh.

Sesulit apapun bola yang menuju ke gawangnya selalu dihalaunya, sekuat tenaga. Pernah suatu kali bola ditendang keras penyerang ke arah tengah, ia menangkis dengan keras dan bola memantul ke arah kiri. Dalam hitungan detik, pantulan itu ditendang lagi lawan dari arah kiri, ia meloncat ke gawang kiri ternyata bola kena tiang, bahkan badannya pun terbentur tiang, sialnya bola memantul ke kanan dan tertahan di kaki lawan di sebelah kanan dan kali ini tendangan langsung dari arah kanan, Shoooottt…., semua pendukung lawan sudah sorak sorai karena pasti gol, sebab kiper sedang dalam posisi terjungkal di posisi kiri.

Ternyata entah bagaimana, dia tiba-tiba sudah berbalik ke kanan dan ujung jarinya sempat menyentil bola, sehingga bola nyasar ke kiri luar gawang. Semua sorak sorai berhenti. Gol sekali lagi gagal disarangkan. Baik lawan maupun lawan mengakui dedikasinya menjaga gawang.

Lalu, berapa gajinya?NOL! Tidak digaji alias free –gratis-. cz pertandingan itu just for fun. Lalu kenapa ia begitu bertanggung jawab. Karena ia sadar ketika ia setuju menjadi kiper, maka ia bertugas menjaga gawang. Ia sadar ketika setuju menjadi kiper maka ia menjadi benteng terakhir pertahanan timnya. Bukan masalah gaji, tapi masalah komitmen. Ia berdedikasi karena ia punya komitmen.

Aksinya yang ‘nekad’ dan tidak mempedulikan keselamatan dirinya sendiri itu mengingatkan saya dengan prinsip KOMITMEN dan DEDIKASI. Dua kata ini yang sebenarnya akan membuat bangsa ini akan maju atau terpuruk, mandek.

Seringkali saya mendengar kasus korupsi merebak di Negeri ini, baik di swasta maupun pemerintahan. Banyak yang bilang penyebab korupsi adalah gaji yang kecil. Padahal kalau dilihat faktanya, banyak kasus korupsi dilakukan oleh pejabat tinggi dan bergaji ‘tinggi’ pula, dan sebagian besar korupsi dilakukan kadang bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan untuk memenuhi keserakahan dan selera hidup mewah.

Jadi bukan gaji kecil yang membuat orang korupsi tapi mental yang kerdil dan berjiwa kecil. Berapapun gaji yang diberikan, kalau tidak ada KOMITMEN dan DEDIKASI korupsi akan tetap ramai bersorai. Sebaliknya kalau punya komitmen dan dedikasi, sekecil apapun gaji yang diterima maka bekerja dengan sunguh-sungguh sudah menjadi jaminannya.

Semoga saja kita termasuk orang yang memegang komitmen dan berdikasi atas komitmen kita. Coz kepercayaan bisa lebih penting nilainya dari sekedar gaji yang kita dapatkan. Sepandai apapun kita, bila tidak lagi bisa dipercaya maka kepandaiannya itu mungkin tak lagi berguna.

Namun dewasa ini, banyak orang yang pesimistis dan hanya bisa mengeluh ‘Ahh..komitmen dan dedikasi, nampaknya itu masih menjadi dua kata yang tetap menjadi krisis di negeri kita ini..’

Bosan rasanya mendengar celotehan orang-orang yang hanya bisa mengeluh. Apa yang kita dapatkan dari keluhan-keluhan itu? NOL, tidak ada! Seyogyanya, sebagai apapun kita atau berposisi apapun kita, kita harus bisa menunjukkan dedikasi dan komitmen untuk menghasilkan sebuah karya. Coz waktu ini terlalu berharga untuk sebuah keluhan.

**********

Entahlah, catatan ini penting atau tidak bagi anda, coz menurut saya, ini hanya sebuah catatan sampah. Karena dengan mudahnya saya ‘menuntut atau menguliti’ kebobrokan petinggi-petinggi negeri dengan menuduh mereka pelaku korup, tidak ada dedikasi dan tak punya komitmen. Mungkin ada, tapi tidak semua, boleh jadi mereka tidak seburuk seperti yang saya dibayangkan.

Sedangkan saya yang mungkin masih ‘dibawah’ ini, belum merasakan ujian yang mereka rasakan yaitu ujian berupa harta dan tahta, boleh jadi ketika saya berposisikan seperti mereka ‘kelakuan’ saya bisa jadi lebih buruk dari mereka.

Hmm.., Saya hanya ingin menjadi manusia biasa dan tentang catatan ini, ambil enaknya sajalah..ok

-Selalu Ada Cerita-
Catatan Pinggir Jalan
Harits Al-Fharizi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: