Oleh: Harits Al-Fharizi | 25 Oktober 2011

Kesempurnaan Ada Karena Ketidaksempurnaan


“Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta
Yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan
Mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga…”

Lagu Mata Hati Telinga dari Maliq & D’essential yang terus setia menemani berdamai dengan malam untuk menikmati imsoniaku, ehm.. malam memang selalu berhasil mengisahkan ribuan cerita hingga tak mampu aku menutup mata.

Tiba-tiba hatiku seakan berbisik tentang satu kata, tentang kata ‘sempurna’. Hatiku lagi-lagi seakan bertanya, “Apa sesungguhnya arti “sempurna” itu? Mungkin bagiku yang berwawasan cetek ini “sempurna” itu berarti gambaran tentang keutuhan, kelengkapan, dan secara keseluruhan terpenuhi (tergenapi dalam makna teologisnya). Walaupun mungkin makna sempurna inipun masih dapat kita diskusikan lagi dalam pemahamannya yang lebih luas. –ya, ini mungkin catatan orang bodoh yang mencoba bercerita dan berlagak pintar, jadi harap maklum.. he-

Mungkin banyak orang yang melihat dan mengartikan ‘sempurna’ hanya dari aspek fisik dan saya pun tidak menyalahkan itu. Karena memang setiap orang bebas mendefinisikan ‘sempurna’ semaunya. Sempurna memang punya ribuan definisi dan rahasia, tergantung bagaimana orang itu melihatnya.

Namun seorang lelaki bernama Siswanto telah mengajarkan makna sempurna yang sesungguhnya kepada saya, Lelaki yang setiap hari berkerja sebagai pengrajin kayu dan merangkap jadi marbot di masjid As-Sa’adah, masjid yang terletak tak jauh dari area Yakum di KM 13,5 jalan Kaliurang.

Setiap pagi ia ‘mengurusi’ masjid, dari soal adzan, iqomat sampai bersih-bersih masjid dan area sekitarnya. Sebelum ia pergi kerja ia memang selalu memastikan masjid itu dengan keadaan bersih dan nyaman. Tempat kerjanya yang memang tak terlalu jauh dari masjid itu, memang selalu membuatnya mudah mengawasi dan memastikan adzan sesuai waktunya.

Sampai disini, memang tidak terlihat sesuatu yang istimewa darinya, terkesan biasa saja. Karena toh itu memang ‘kerjaannya’ setiap hari, semua orang pun bisa melakukannya.

Namun bila anda suatu saat sempat untuk sekedar berkunjung ke masjid itu, anda akan mendapati sesuatu yang tak biasa dari diri seorang Siswanto, yah Siswanto adalah seorang yang lumpuh sejak kecil, sejak lahir. Setiap harinya ia dibantu berjalan dengan kursi rodanya, dari soal bersih-bersih masjid sampai pergi ke tempat kerjanya juga selalu ditemani dengan kursi rodanya.

Bisa anda bayangkan, seorang cacat harus mengurusi semua keperluan masjd lalu ia pun harus berkerja untuk mencukupi hidupnya dan dari semua itu ia hanya ‘berteman’ dengan kursi rodanya. Jangan coba tanya ke saya, karena saya pun tak akan mampu menjawabnya atau bahkan membayangkannya. Karena bukan hal yang mudah untuk melakukan semua itu. tidak semudah berkata dan tidak semudah membalikan telapak tangan.

Selama saya mengenalnya, saya hampir tidak pernah melihatnya tidak tersenyum ramah ke semua orang, tak ada keluhan, tak ada rintihan, yang ada hanya senyuman. Setiap kali saya berbincang dengannya satu kalimat yang tak pernah tertinggal dari ucapannya “Tetap istiqamah ya,” ya..Hati lelaki itu memang seteduh wajahnya.

Satu lagi, suara adzannya yang merdu dan mendayu-dayu seakan-akan selalu menyisakan memori di hati, membuatnya unik dan selalu ‘ngangeni’ untuk di datangi. Mungkin bila saya hidup dengan keadaan seperti dia, hari-hari saya akan dipenuhi air mata keluhan dan mungkin juga mengutuk Tuhan “Mengapa kau ciptakan aku sehina ini!”. Atau tragisnya saya akan selalu minder dengan keadaan seperti itu.

Namun dari sinilah, saya benar-benar belajar untuk mensyukuri semua nikmat Tuhan, bila seorang Siswanto yang fisiknya tidak sempurna saja masih bisa berdedikasi penuh akan tugas-tugasnya dan belajar hidup mandiri tanpa berpangku tangan kepada orang lain, lalu mengapa saya yang dianugrahi fiksi yang sempurna tidak bisa seperti dia. ya..Setidaknya saya harus bisa selaras dengannya.

Terima kasih Siswanto, engkau telah mengajariku tentang makna sempurna untuk hidup yang memang tak pernah sempurna. Untuk mecintai secara sempurna untuk sesuatu yang tak sempurna, untuk menyikapi segala hal dengan sempurna untuk segala hal yang tak biasa dan menjalaninya dengan cara yang sempurna.

“Sempurna mungkin punya ribuan makna dan rahasia, namun yakinlah tidak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali berseikap sempurna untuk menjalaninya..”

Bersama akhir catatan ini, berakhir pula lagu Mata Hati Telinga

“Adakah kau rasakan kadang hati dan fikiran
Tak selalu sejalan seperti yang kau harapkan
Tuhan tolong tunjukkan apa yang ‘kan datang
Hikmah dari semua misteri yang tak pernah terpecahkan..”

“Buka mata hati telinga
Coba kau buka mata hati telinga…”

Andai aku dapat memohon agar hidupku sempurna, kemungkinan ini sangat menggiurkan, tapi aku merasa hampa, karena hidup tak mengajariku apapun.-Allyson Jones-

Al-Fharizi
Catatan Pinggir Jalan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: