Oleh: Harits Al-Fharizi | 28 Januari 2012

Jemputan Terakhir untuk Munir


Tujuh tahun, berita itu nyaris tak terdengar lagi.

Suara-suara yang dulu lantang berkumandang tentang doa dan bunga-bunga. Seperti halnya ratusan Malaikat yang mesti kembali berdoa tentang kisah perjuangan lama. Bulan September berdarah, airmata menetes jatuh ke tanah, ada yang hilang atau ada yang tersisa di dalam kalbu kita.

Tujuh tahun, kenangan itu akan terus bergaung

Sebuah sejarah tetap setia menitipkan pesan di antara gema, kisah masa lalu dan keringat yang membakar pada dada dan kaki yang menjejak. Kita merenungi cerita ganas puluhan tahun yang kerap kita tanyakan. Ada yang membara, namun ada juga yang punah dalam kalbu kita.

(Sementara, angin terus memadamkan api yang masih menyala. Zaman membekukan perjalanan, semua menggantung di almanak berdebu. Bara sekam di dada, haruskah engkau jadi tiada?)

Tujuh tahun, tetap ada yang mengenangmu

(Aku tak mengerti tentang kepunahan jasadmu dan nisanmu. Pada angin, batu atau kesaksian dunia jauh, kutanyakan tentang kebiadaban masa lalu)

Tujuh tahun, sejarah apa yang mampu menyingkap kesunyianmu?
Sepi, sendiri dan membeku

-Untuk Munir Said Thalib, 1965-2004-
Salam, Harits


Responses

  1. iy jg ya,,, kasus Munir prlahan mulai trlupakn,,,
    hmmm,, puisi yg bagus,, izin copas y.. xixixixi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: