Oleh: Harits Al-Fharizi | 14 April 2012

Kangen


Tahun kesekian saat subuh menyapa, ku pungut satu per satu gelembung jatuh, dari mata, dari dada. Seperti halnya kemarin, matahari lagi dan lagi membuatku nyaris tak berdaya dan nyaris tak bernyawa. Ku panggili namanya. Ku kubur Tanya dalam diam dan hampa.

Oh.. butakan mata dari gumpal-gumpal masa yang melembaga! Setiap pejam adalah perih yang menyiksa, entah sampai kapan kan begini. Dada mengelupas seiring butir-butir jam pasir di atas meja.

Tahun kesekian saat subuh menyapa. Aku tak yakin mampu menahan gempur cuaca. Gelap adalah teman sekaligus bencana dan bulan tak lagi sesetia dulu. Setiap malam selalu melahirkan keinginan-keinginan maya, fatamorgana. Ketakutan-ketkutan yang tak berjeda. Berkecamuk dalam durja dan serpihan-serpihan yang tak nyata.

Tahun kesekian saat subuh menyapa. Lagi-lagi, angin tak juga memberi tanda. Tapi tetap kukumpulkan linang air mata. Menjadi telaga. Kurajut do’a, semoga kelak menjadi peta yang nyata.

Kupanggili namamu… kupanggili namamu…
Rindu, merrindu biru dalam kalbu..

Meski aku tak yakin, apakah kesempatan itu masih ada? Namun aku tak akan jera. Ku batukan dada, ku batukan dada…

-Puisi untuk Ayah-
Sejak ku sapa dunia, aku tak sedikitpun tau dimana jejakmu
Semoga kelak aku bisa menemuimu, apapun itu, kau tetap Ayahku..!

Salam, Harits


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: