Oleh: Harits Al-Fharizi | 19 Mei 2012

The Real Love Story


Madinah dalam keadaan siaga penuh. Umat Muslim mencium gelagat perang pasukan Abu Shufyan. Situasi sangat genting. Dalam situasi seperti itu, seorang sahabat, Hanzhalah, dengan penuh ketenangan dan keyakinan justru menikah.

Hanzhalah menikahi Jamilah, kekasihnya, di malam yang keesokannya perang Uhud berkobar. Ia meminta izin Nabi Sallallahu alahi wassalam untuk bermalam bersama istrinya. Nabi pun mengijinkan. Tak seorangpun tahu, nasib seseorang di medan peperangan, termasuk bagi pengantin baru seperti Hanzhalah. Karena itu, ia memanfaatkan waktu berbulan madu sepenuhnya.

Tatkala tubuh Hanzhalah dan istrinya bermandikan keringat bulan madu, sungguh di mata pengantin baru ini dunia seolah menjadi milik berdua. Memadu segenap cinta di ujung waktu yang tersisa. Ranjang nan hangat dan tatapan istri yang memikat nyaris membuat si pengantin melangkah pun berat. Saat fajar menjelang, panggilan berperang pun datang berkumandang…
“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!”

Genderang perang itu begitu lantang berkumandang. Hanzhalah tergugah dari pelukan cinta sang istri. Zirah (Seragam perang) perang dikenakan dan pedang disematkan. Sesaat, ditatapnya wajah sang istri dengan penuh rasa cinta. Wajah bahagia itu diusapnya dan sebuah ciuman hangat mendarat di keningnya. Satu tarikan nafas panjang, Hanzhalah pamit ke medan perang. Sungguh, bila bukan karena ghirah (semangat beragama) yang membuncah di dadanya, takbir perang itu takkan disambutnya. Suara itu laksana pekik surgawi yang lama dinanti.

Dengan derai airmata sang istri yang seolah tak rela, Hanzhalah bergegas ke medan perang. Sang istri sungguh mengerti. Di atas mahligai suci perkawinan mereka, cinta kepada Ilahi dan Nabi bertahta dan menyisihkan segalanya. Ditatapnya punggung Hanzhalah yang tertutup zirah untuk terakhir kalinya. Bibirnya lirih berzikir, “Yaa Mutakabbir, sambutlah suamiku dengan iringan takbir!”

Alangkah gagahnya Hanzhalah di medan perang Uhud. Ayunan pedangnya deras berkelebatan menebar kematian. Lihatlah! Wajah Hanzhalah bersinar cemerlang. Raut kebahagiaan terpancar di parasnya. Seolah wajah itu berkata, “Istriku ridha dengan kepergianku!” Tatapan matanya sungguh meruntuhkan nyali orang-orang Quraisy. Di sela-sela pekik takbir yang bersahutan, tubuh dan zirah perang Hanzhalah, basah oleh keringat. Keringat bulan madu semalam, tiada artinya dengan keringat Uhud.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, berhasil menelikung gerakan Hanzhalah. Ia berhasil menebas tengkuknya dari belakang. Darah pun muncrat. Tubuh gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah. BRUUK!!! Luka-lukanya begitu parah. Hujan tombak dan panah dari segala penjuru menorehkan syahid di tubuh yang basah kuyup itu. Para sahabat yang berada di sekitar dirinya bergegas memberikan pertolongan. Sayang, mereka terlambat.

Tak berapa lama kecamuk perang surut. Sepi memagut hari. Perihnya luka-luka yang menganga mendekap sukma. Hanzhalah gugur sebagai syuhada di medan Uhud. Jasadnya terkulai di Uhud.

Terlihat semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Terjadi hujan lokal. Tubuhnya terangkat dan terbolak-balik seolah air hujan hendak memasahi sekujur tubuhnya. Kilauan cahaya putih membias di sela-sela tetesan hujan. Akhirnya, hujan mereda. Cahaya terang mulai padam. Tampak iringan kemilau cahaya putih melesat ke langit. Tubuh Hanzhalah kembali turun ke bumi.

Subhanallah! Hujan lokal deras mengguyur Hanzhalah? Para sahabat yang menyaksikan basahnya tubuh dan zirah perang Hanzhalah, tak urung keheranan. Mereka lantas membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw. Diiringi wajah para sahabat yang bertanya, Rasulullah meminta agar istri Hanzhalah segera dihadirkan.

Begitu tiba di hadapan Nabi, beliau bercerita tentang Hanzhalah. Kepada janda Hanzhalah, Nabi bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”

Wanita itu tertunduk. Rona pipinya merah bersemu. Dengan senyum tipis penuh malu, ia berkata: “Suamiku Hanzhalah, pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”

Rasulullah kemudian berkata kepada semua yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Jenazah Hanzhalah telah dimandikan para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istri Hanzhalah dari kalangan bidadari yang datang menjemput. Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, duhai suami kami tercinta. Sungguh, lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita ke peraduan.”
*********

Sungguh, Romeo tak perlu mati demi Juliet. Qais tak perlu menjadi majenun karena dilamun rindu pada Laila. Romeo masih bisa meneruskan hidupnya tanpa Juliet. Qais tetap bisa waras tanpa Laila. Kawan, engkau pasti bertanya. Kulihat wajah-wajah penuh tanda tanya. Ada apa dengan Hanzhalah, Romeo-Juliet dan Qais-Laila? Apa hubungan di antara mereka? Kenapa kisah mereka dituturkan di sini? Apa esensinya?

Kawan, engkau mungkin amat mengenal Romeo-Juliet. Novel satir gubahan William Shakespeare memang mendunia. Berapa versi Romeo-Juliet telah difilmkan dan meraup pundi-pundi dolar. Engkau mungkin bertanya siapa Qais dan Laila? Pun, segelintir orang mafhum dengan Hanzhalah. Kawan, semua ini kisah tentang cinta.

Apa yang membedakan Hanzhalah, Romeo-Juliet dan Qais-Laila? Kawan, tak perlu bertanya kepada Dora dengan petanya untuk mencari tahu jawabnya. Romeo-Juliet dan Qais-Laila adalah sosok-sosok pecinta yang menyerah dengan cintanya. Mereka tidak sanggup melangkah lurus, sebab berhenti di satu titik. Menyerah. Hidup Romeo tak berarti tanpa Juliet. Qais memilih mati karena hampa dicampakkan Laila. Ia memang tidak bunuh diri, tetapi membiarkan dirinya larut dalam kesedihan dan keterpurukan. Ia menenggelamkan dirinya dalam duka sampai maut menjemput.

Mereka adalah orang-orang romantis. Sayangnya, orang–orang romantis seringkali rapuh. Jiwa-jiwa mereka lembut dan peka. Namun kelembutan itu terbiaskan dengan kerapuhan. Qais dan Romeo mewakili tipikal laki-laki pecinta berperasaan halus, tetapi amat rapuh. Dalam dada orang-orang yang romantis, perpisahan patut ditangisi. Perpisahan adalah saat-saat paling melankolis. Dibenci dan dihindari. Dunia begitu hampa. *Gimana ga hampa. Lah wong mereka mengklaim dunia milik berdua. Begitu pergi kekasihnya, apa jadinya?*. Kehampaan sempurna nan bersimaharaja di sepanjang hayat. Orang-orang romantis mendambakan ketenangan, kedamaian, keabadian bersama kekasihnya. Naif banget kan?

Kehidupan tak seperti itu. Kehidupan selalu punya aturan dan kaidah yang kerap memaksa orang-orang romantis itu terpisah dari kekasihnya. Lantas, kenapa mesti bersedih ketika mesti berpisah dan patah hati? Kenapa mesti ada airmata saat kekasih yang begitu kita damba berlalu dari mata dan dunia kita? Kenapa saat-saat berdua begitu renyahnya kita tertawa dan ketika sendirian begitu getirnya kita menangis? Kehidupan itu memang berisi tangis dan tawa. Terjebak salah satunya berbahaya. Jika terperangkap keduanya, orang menyebutnya gila.

Sedihnya, keadaan seperti ini melanda sebagian besar umat Muslim dewasa ini. Mereka berkubang dengan romantisme semu yang rapuh. Berlindung di balik kelembutan jiwa para pecinta yang mendambakan keabadian bersama kekasihnya. Mereka lalai. Mereka sebenarnya hanya menutupi kelemahan dan kerapuhan dirinya. Tengoklah Hanzhalah! Tatkala seruan perang memerangi kebathilan mengetuk bulan madunya, ia bergegas menyambutnya. Katanya, sami’na wa atha’na! (Kami dengar dan kami patuh) . Sungguh, ganjaran berupa surga dan bidadari yang bermata jeli, adalah janji abadi Ilahi bagi para pecinta sejati.

Kawan, inilah esensi kisah di atas. Andaikata engkau belum mengerti juga, ijinkan syair berikut kupaparkan. Syair yang mengutip sejarah sosok nomor satu di dunia sepanjang masa. Semoga kita bisa memetik hikmahnya.

Mutakabbir menyindir,
Kala bahteraku kandas di satu dermaga
Dihadirkan kisah cinta Muhammad kepada Fakhita*
“KekasihKU pernah patah hati”
Saat itu mukaku tunduk ke bumi
Tak berani menengadah lagi
SIAPA AKU?
Sungguh..sudah sering airmata cinta mengalir
Tuhan pun cemburu…
“Kapan engkau menangis cinta padaKU?”

*Fakhita Binti Abu Thalib, Muhammad muda pernah ingin mempersuntingnya tetapi dengan bijak di tolak oleh Abu Thalib (dari Buku : Muhammad Biografi Sang Nabi, Karen Amstrong)

Salam, Harits


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: