Oleh: Harits Al-Fharizi | 19 Juni 2012

Sang Pembawa Berita


Undzur ma qoola walaa tandzur man qoola
(Ali Bin Abi Thalib)

Kutipan di atas memang terlihat sangat sederhana. Namun bagi saya kutipan itu seperti kata-kata ‘magic’ yang seakan ‘menyihir’ saya untuk tidak pernah meremehkan orang lain dan menerima segala perkataan dan nasihat dari orang-orang yang mungkin terlihat –maaf- tidak penting.

“Undzur ma qoola walaa tandzur man qoola”. Walaupun simple dan terdiri dari dua kalimat yang isinya Fi’il, Fail dan Maf’ul tapi kalau kita mau sedikit menelaah dan menafsirkannya lebih luas InsyaAllah kita akan dapatkan makna arti yang sesunguhnya.

Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan’. Begitu arti secara harfiahnya, dalam kehidupan sehari-hari mungkin hanya sedikit dari kita yang mampu menerapkannya. Perlu digaris bawahi kalimat diatas ditekankan pada Obyek bukan pada subyek atau pelaku.

Ada sebuah kisah sederhana yang berkaitan dengan hal ini.

******

Suatu ketika di hutan pinggiran suatu dusun, sebuah rombongan sirkus menggelar tendanya dan mempersiapkan pertunjukan.

Suatu hari, tepat sebelum suatu pertunjukan dimulai, entah bagaimana terjadi kebakaran di semak-semak di pinggir perkemahan sirkus tersebut. Angin bertiup dengan kencang ke arah dusun. Angin yang kencang juga membesarkan kobaran api dengan cepat. Kata pemilik sirkus, harus ada seseorang yang memperingati masyarakat dusun tersebut tentang kebakaran hutan ini. Kalau api mencapai dusun, maka akan jatuh korban harta benda yang besar.

Seorang badut, masih lengkap dengan pakaian dan make-up badutnya ( karena bersiap untuk pertunjukan ) segera berlari menyambar sepeda hias yang seharusnya dipakai dalam pertunjukan. Tanpa membuang waktu, badut tersebut mengayuh sepedanya secepat mungkin menuju dusun tersebut.Beruntung dusun tersebut terletak di dataran yang lebih rendah, sehingga si badut dapat mencapai dusun tersebut sebelum api yang berkobar mencapai dusun.

Si badut berteriak-teriak dengan lantang sambil bersepeda berkeliling alun-alun, ‘kebakaran hutan!!! Cepat selamatkan diri dan keluarga kalian!!!’

Namun masyarakat dusun yang melihat dan mendengar teriakan si badut tersebut malah berkerumun dan menertawakan si badut yang berpakaian dan beraut wajah lucu. Mereka menonton badut tersebut sambil bertepuk tangan.

Akhirnya kobaran api pun mencapai dusun tersebut, dan menyebabkan kebakaran besar. Teriakan histeris dan panik mewarnai usaha masyarakat dusun untuk melarikan diri. Korban jiwa dan harta benda tak dapat dielakkan.

Si badut mengayuh kembali sepedanya ke perkemahan sirkus dengan sedih karena peringatannya tidak didengarkan.

******

Seperti kutipan di atas ‘Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan’ Namun realitanya seringkali kita menganggap ‘pembawa berita’ lebih penting daripada isi dari berita yang dibawa itu sendiri. Artinya dalam mendengarkan saran, nasihat, atau kritikan, kita kerap menilai si ‘pembawa berita’, bukan isi dari berita tersebut.

Semisal Seorang yang sombong apabila ditegur oleh temannya akan menyebabkan perdebatan bahkan pertengkaran. Lain cerita apabia ia ditegur oleh gurunya atau orang yang dihormatinya, walaupun isi tegurannya kira-kira sama.Mengapa harus demikian? Bukankah 2 kg emas yang dibawa orang kaya dan 2 kg emas yang dibawa pengemis sama berharganya ?

Tidak bisakah kita menerima saran, nasihat, atau kritikan yang bagus tanpa memandang siapa yang menyampaikannya pada kita?

Seberapa sering kita melewatkan kesempatan akibat mengabaikan berita penting yang dibawa oleh orang yang ‘kurang penting’?

So, Orang gila sekalipun kalau ngomongnya bener, gue dengerin…

Catatan Pinggir Jalan
Harits Al-Fharizi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: