Oleh: Harits Al-Fharizi | 6 Oktober 2012

Melukis Wajah Cinta


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Aku ingin mecintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono, (1989)

Dewasa ini, keanekaragaman arti cinta semakin sulit diterka dalam setiap peristiwa-peristiwa yang mengirinya. Sinetron bilang cinta, pembunuhan ‘menghunuskan’ cinta, bahkan koruptor pun ‘menyelipkan’ cinta dan seakan tak mau kalah iklan pun ikut-ikutan menyatakan cinta. Seolah cinta selalu menjadi alasan dalam setiap tindakan. Lalu, bagaimana Sapardi ‘melukis’ cinta sederhananya?

Sebelumnya harus saya akui secara pribadi, puisi ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan puisi cinta pada umumnya yang penuh akan puja dan puji dan kalimat yang melangit bahkan amat terlalu (baca lebay). Dalam puisi ini, Sapardi justru menekankan pada kesederhanaan bersajak. Namun dalam kesederhanaannya kita tetap akan bisa melihat kedalaman ‘lukisan’ perasaan sang penulis.

Mengutip dalam kamus besar Bahasa Indonesia ‘sederhana’ memiliki arti : sedang, bersahaja, tak banyak seluk beluk, tak rumit dan lain sebagainya. Maka bila kita dihubungkan pada sajak ini, Seakan ada perbandingan yang sangat nyata. Pada baris pertama pada bait ke satu dan kedua, ada kalimat pernyataan.

Aku Ingin Mencintaimu dengan sederhana

“Aku ingin..” kalimat itu seperti mengungkapkan suatu harapan untuk bisa berbuat lebih. Namun Sapardi juga seakan menghadirkan kesederhanaan dengan kalimat lanjutannya “… mencintaimu dengan sederhana” Sapardi seakan juga ingin melukis wajah cinta yang berkeinginan kuat namun tetap sederhana, cinta tanpa ‘embel-embel’, bukan cinta yang pasif namun juga bukan progresif, nafsu atau sesuatu yang memaksakan. Sapardi benar-benar melukis cinta itu dengan wajah yang sangat sederhana, tulus sepenuh hati tanpa manipulasi.

Namun pada baris ke satu dan kedua pada kedua bait puisi itu seakan ada pertentangan pada baris ke satu dan baris kedua pada kedua bait (baca : ketidak singkronan)

Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Ada suatu ketertundaan, ada suatu yang tak sempat tersampaikan pada bait itu, namun tetap dirasa sebagai sesuatu yang utuh. “kata” menjadi sebuah perwakilan ungkapan terimakasih, rasa kagum, ingin dari “kayu” yang sampai pada tahap tertentu lantaran “api”, yaitu “abu”. “kata” jika diucapkan akan menjadi ukuran, sejauh mana rasa terimakasih kayu akan tergambar. Bisa jadi ungkapan dari “kata” menjadi hal yang biasa, bertele-tele ataupun tak sesuai dengan maksud perasaan dan menjadi hal yang tidak sederhana lagi. Ketika “kata” tak sempat di utarakan, maka ia akan menjadi hal yang tertangguh dalam benak, terbawa dalam sikap sehari-hari. Pada akhirnya sikap itulah yang benar-benar hidup dan menjadi ungkapan sebenarnya yang lebih utuh, tulus dan sederhana.

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dibait ini makna cinta sederhana seakan terlukis untuk saling meniadakan.Ada kontroversi dalam puisi ini yang menjelma menjadi teka teki. Bukankah cinta itu sesuatu yang utuh bukan malah saling tiada meniadakan? Namun saya teringat akan makna ‘sederhana’ bukankah semua ini bermuara pada kata itu. penggunaan metafor tersebut tidak mengandaikan maksud saling meniadakan tetapi sebuah proses keberlanjuntan. Jadi keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud selanjutnya. Seakan cinta itu sendiri rela tiada untuk sebuah keharusan keberlanjutan.

Api yang meniadakan kayu dan hujan yang meniadakan awan, demikian juga hujan yang membutuhkan awan. Proses peniadaan seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, “penyampain” pada cerita dalam puisi itu seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.

Setiap kita bebas menafsirkan ‘wajah’ akan cinta yang sederhana, namun harus saya akui kesederhanaan cinta dalam puisi ini sama sekali tidak bisa dibilang sederhana. meminjam satu prinsip yang diyakini Steve Jobs, simplicity is the ultimate sophistication. Kesederhanaan adalah bentuk ketidaksederhanaan yang paling tidak sederhana.

Harits Al-Fharizi

Iklan

Responses

  1. ini posting terakhir kah? kenapa tidak dilanjutkan? tulisannya bagus, menyentuh hati… 🙂
    semoga akan ada tulisan2 terbaru…
    assalamu’alaykum…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: