Oleh: Harits Al-Fharizi | 31 Desember 2011

Kembara


Aku memang kembara
yang berpacu dengan sang waktu
sebelum malam abadi tiba

“Hidup manusia terbatas,
namun seni maha luas”

Seperti pelari jarak jauh
pada terjangan terakhir

Aku tak sempat hirau
sambutan maupun ejekan!

 

 

Oleh: Harits Al-Fharizi | 19 Desember 2011

‘Ngilmu’ Ikhlas

Orang lain boleh tidak mengenal siapa kita,
namun jangan sampai mereka juga tidak mengenal kebermanfaatan kita

Jika suatu saat ada waktu, keluarlah tengah malam hingga dini hari untuk berkeliling kota Jogja. Di waktu tengah malam itu, ketika lalu lalang kendaraan sudah agak sepi, disaat itulah waktu yang tepat menikmati kota Jogja dari sisi yang berbeda, sisi yang menyimpan ribuan cerita dan pelajaran kehidupan yang sangat berharga. -setidaknya bagi saya pribadi-

Di tengah malam menjelang pagi yang sunyi itulah waktumya gerombolan manusia malam keluar menghabiskan sisa malamnya untuk berpesta. Hmm, tentu saja bukan pesta yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu disco dan hura-hura. Mereka berpesta untuk membersihkan jalan-jalan yang penuh akan keruh sampah, yaa.. mereka adalah para petugas penyapu jalan yang sedang berkerja. Karena memang hanya di waktu itulah mereka bisa melakukan pekerjaannya, karena terlalu sulit melakukan pekerjaan itu di saat kota masih sangat ramai. Dini hari menjelang pagi, setelah orang-orang yang menikmati malam kembali ke rumah dengan meninggalkan sampah di sepanjang jalan, barisan penyapu jalan pun bergerak serempak menyikat habis sampah-sampah itu.

Para petugas penyapu jalan memang berpacu dengan waktu agar esok pagi para pengguna jalan tak mengalami hambatan karena sampah yang berserakan. Para penyapu jalan terus mengayun tangannya tanpa mempedulikan rasa lelah dan kantuk, mereka harus menyelesaikan tugasnya sebelum mentari kembali bersinar membangunkan orang-orang kota yang akan segera bergegas dalam berbagai aktifitasnya. Mereka bekerja tanpa ada yang tahu siapa mereka, orang-orang hanya tahu dan bisa melihat hasil nyata pekerjaan mereka. Jalan bersih tanpa sampah yang bisa mengganggu perjalanan adalah hasilnya, meski sebagian besar penikmat jalan tak pernah benar-benar tahu siapa yang melakukan semua itu.

Mereka (para penyapu jalan) mengingatkan saya tentang makna ikhlas sepenuhnya. Bekerja tanpa hiruk pikuk penonton, tanpa Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 19 Desember 2011

Bukan Salah Buaya kok !

Tenang-tenang… ditulisan ini, saya tidak akan mengangkat tema tentang buaya darat kok, jadi teman-teman yang punya hobi gonta-ganti pasangan tidak perlu tersinggung ok !

Beberapa hari yang lalu setelah terjadi musibah runtuhnya Jembatan Kukar, ada kejadian unik yang mungkin layak saya tulisakan di sini, yaitu mengenai evakuasi korban-korban atas musibah tersebut. Teryata bukan hal yang mudah untuk mencari korban-korban yang tenggelam di sungai mahakam dan juga bukan semudah membalikkan telapak tangan untuk berkerja sama dengan masyarakat setempat yang punya cara unik dan keyakinan sendiri tentang mengevakuasi korban.

Bahkan niat baik dan keahlian dari Tim SAR saja, kadangkala tidak cukup untuk menjalakan tugas dengan baik. Adakalanya teman-teman dari tim SAR harus mempertimbangkan hal-hal yang berlaku di masyakarat setempat seperti adat istiadat, tradisi atau bahkan hal yang bersifat gaib. Jika ada beberapa temen-teman dari Tim SAR berkompromi, sifatnya hanya untuk menghormati tradisi setempat dan bukan untuk menuruti kepercayaan masyarakat yang terkadang tidak rasional.

Saat mencari korban yang tenggelam di dasar sungai, tidak jarang masyarakat memberi saran untuk memberi sesaji agar korban cepat ditemukan. Ya.. bisa dengan Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 19 Desember 2011

Bukan Kambing Hitam Tapi Kambing Jantan

Film Kambing Jantan, sebenarnya itu film sudah lama. N amun baru sempat saya tonton sekitar awal tahun 2011 (telaat bangetkan). Maklum sebelumnya saya tidak terlalu ngeh dengan film itu, bahkan saya kira itu film tentang jual-beli kambing hehe..

Awalnya saya suka dengan satu lagu yang berjudul Adelaide Sky yang begitu apik dinyanyikan oleh Aditya Sofyan. Lagunya asyik apalagi dibawakan secara akustik dan secara kebetulan saya dapatkan setelah ‘mengorek-ngorek’ folder musik dari salah satu teman kampus saya.

Bermula dari lagu itu, akhirnya saya penasaran dengan filmnya dan akhirnya saya tonton juga tuh film. Mmm… filmnya sangat mengispirasi ! (setidaknya begitu menurut saya), ada beberapa hal yang menurut saya sangat mengispirasi dan patut ditiru. Dibawah ini saya tuliskan beberapa poin tentang film Kambing Jantan.

Poin Pertama : Iseng-Iseng Berhadiah

Awalnya seorang Raditya Dika hanya Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 15 Desember 2011

Protes Dari Si Kecil

Sudah menjadi kebiasaan atau tepatnya hobi bagi saya, untuk mendongengi para anak didik saya dengan dongeng-dongeng sederhana namun menyimpan pesan yang tak bisa dibilang sederhana. Salah satu dongeng yang pernah saya dongengkan kepada para anak didik saya yang memang rata-rata masih berumur 5 tahun itu adalah dongeng tentang Bawang Merah – Bawang Putih.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa kisah Bawang Merah- Bawang Putih ini menceritakan tentang kejahatan sang ibu tiri dan Bawang Merah terhadap Bawang Putih. Di akhir cerita ternyata malah Bawang Putih yang bahagia (tentu berkat kesabaran dan kebaikannya), sedangkan hidup ibu tiri dan Bawang Merah jadi sengsara dan diliputi penyesalan.

Para anak didik saya pun mendengar dengan seksama cerita tentang Bawang Putih-Bawang Merah. Dalam bercerita, saya memang sering kali menggunakan Story Telling, yaitu bercerita dengan cara mendalami kisah tersebut, dari ekspresi wajah, intonasi kata sampai gerakan tubuh. Sehingga membuat anak didik saya ketagihan untuk diceritakan dongeng walau terkadang dengan dongeng yang sama. He

Awalnya anak didik saya tidak pernah protes dengan alur cerita bawang Merah-Bawang Putih, namun tiba-tiba Putri (nama salah satu dari anak-anak didik saya) mengajukan protes menjelang akhir cerita. Saat itu memang episode ketika Bawang Putih mendapatkan semangka yang berisi perhiasan dsebabkan karena kabaikan dan kesabarannya sedangkan Bawang Merah mendapatkan buah semangka yang berisi ular-ular berbisa akibat kelakuan buruknya.

Putri tidak setuju dengan akhir cerita Bawang Merah-Bawang Putih yang seperti biasanya, ia mengusulkan bahwa Bawang Merah juga mendapatkan Semangka berisi perhiasan, kemudian Bawang Putih dan Bawang Merah saling memaafkan dan berpelukan, lalu setelah itu mereka hidup dengan rukun dan damai.

Sebenarnya saya agak terkejut dengan usulan Putri dan berusaha menceritakan alur yang sebenarnya sesuai dengan apa yang ada di buku dongeng, tapi Putri tetap ngotot, dengan mata yang mulai memerah karena ingin menangis ia lalu menyampaikan alasannya “ Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 15 Desember 2011

Berani Nyeleneh, Asal Bersih


Stasiun Tugu, Yogyakarta 2010

Umumnya jika kita minum air dari gelas, kita biasanya akan menempelkan bibir kita di bagian mana saja dari gelas itu. Namun, jika gelas itu bergagang, kita biasanya menempelkan bibir kita ke bagian gelas yang paling dekat ke mulut saat kita pegang gagang gelas itu.

Namun, suatu saat di pertengahan tahun 2010, saya pernah menjumpai orang yang punya kebiasaan aneh bin nyeleneh saat minum kopi di seputaran stasiun Tugu Yogyakarta. Orang ini biasa nongkrong di angkringan Tugu langganan saya. Jika dia minum dari gelas bergagang, ia memegang gagangnya lalu menempelkan mulut ke bibir gelas yang berada persis di atas gagang gelas. Mmm… sebuah cara minum yang aneh, batinku.

Tapi karena rasa penasaran, saya coba iseng-iseng untuk bertanya kepadanya, mengapa dia minum dengan cara yang tidak wajar dan terlihat merepotkan itu. Tapi rupanya ia tampak keberatan mengemukakan alasanya dan dengan iseng juga ia hanya berseloroh, “Cuma cari sensasi aja mas..”.

Sejujurnya saya tidak puas dengan jawaban itu, sebab saya sering mengamati dia, setiap kali nongkrong di angkringan Tugu, saya selalu mendapati dia minum dengan cara yang sama. Setelah saya alihkan perhatiannya lewat obrolan basa-basi, lalu saya kembali mengajukan pertanyaan tadi dan akhirnya “berhasil”. Dia bersedia menjawab. Katanya Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 3 Desember 2011

Bahagia Itu Sederhana

Lihatlah orang yang dibawahmu, dan janganlah melihat orang yang diatasmu, karena itu lebih pantas supaya kamu tidak meremehkan nikmat Tuhan yang telah diberikan kepadamu (Al-Hadits)

Jakarta, Kampung Rambutan, 1997. Hujan baru saja usai mengguyur Ibu Kota sore itu, dua anak kecil yang sekujur badannya masih basah kuyup setelah lelah ‘mengais’ rejeki dengan menjadi ojek payung, berjalan bergegas mendatangi sebuah warung tegal (warteg) yang memang banyak dijumpai di seputaran terminal Kampung Rambutan kala itu. Suasana warteg itu begitu ramai dengan banyaknya ‘tamu’ yang berdesak-desakan, dua anak kecil itu pun ikut berdesak-desakan mengantri menunggu pelayanan.

Lima belas menit kemudian, sebungkus nasi plus lauk pauk ala warteg, sudah dalam genggaman dua orang anak kecil yang memang usianya sebaya dengan saya. Mereka berdua lalu bergegas ke pojokan, berjongkok. Makan nasi sebungkus berdua, juga menjilati jari-jari yang telah berlumur sambal dan sayur . Mmmm…Nikmat sekali.

Saya jadi teringat tentang teori Hirarki Kebutuhan Abaraham Maslow yang dulu pernah saya pelajari sewaktu di Kuliah. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah, sampai yang paling tinggi. Inti dari teori itu adalah tentang puncak kebahagiaan. Apakah kedua anak itu tengah mencapai ‘puncak’? Sebungkus nasi plus lauk pauk ala warteg Ibu Kota yang dibeli dengan keringat sendiri, dengan rasa ‘nikmat’ telah memberi mereka pengalaman kejut. Walau hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi warteg, mereka syukuri rezeki yang diperoleh hari ini, dengan cara ikhlas menyantapnya.

Sampai detik ini, Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 3 Desember 2011

Kacamata Kiriman Dari Tuhan

“Tuhan bisa melakukan berbagai perkara penting melalui cara sederhana dan tak terduga.”

Sore itu, Kakek merampungkan pekerjaannya membuat lemari kayu yang esok akan dikirim ke panti asuhan di Kalimantan yang terkena banjir, bersama dengan berbagai perkakas seperti ranjang, kursi roda, obat-obatan, selimut, sebagai sumbangan dari warga lingkungan kami. Namun sehari kemudian ia panik kehilangan kacamata. Selidik punya selidik, ia baru ingat menaruh kacamata tersebut.

“Duh, Gusti. Saya ‘kan sudah menghabiskan tenaga dan uang untuk menolong sesama. Kenapa malah jadi begini?,” gerutu Kakek, seolah menyalahkan Tuhan.

Selang dua bulan kemudian, pengasuh panti asuhan korban bankir tersebut, bertandang ke lingkungan kami untuk menyatakan terimakasih atas bantuan yang diterimanya. “Secara khusus saya berterimakasih atas kiriman Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 1 Desember 2011

Orang Pintar Vs Orang Beruntung

Berbuat baik adalah salah satu do’a terbaik

Berbicara mengenai orang pintar vs orang beruntung, saya jadi teringat oleh kata-kata Made Prama “Orang bodoh dikalahkan oleh orang pintar, orang pintar dikalahkan oleh orang licik, orang licik dikalahkan oleh orang beruntung. Jadi orang beruntung adalah orang yang tidak terkalahkan.”

Jika kita selalu melakukan perbuatan yang baik, maka kita akan mendapatkan buahnya, yaitu keberuntungan. Percayakah, Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 29 November 2011

Hari Ini Aku Mati

Masuklah,
Sudah lama aku menunggumu
Di atas ranjang tempat pembaringanku
Aku selalu mengingatmu
Setiap detik bayanganmu
Menghiasai pandangan mataku

Tak perlu kau ketuk,
Sebab pintuku tak pernah terkunci
Sungguh mati..
Aku tak khawatir akan kehilangan harta dan benda
Karena pada akhirnya
aku tak akan membawanya

Aku ingin istirah
Menunggu kau, membawaku pergi dengan pasrah

Al-Fharizi

Oleh: Harits Al-Fharizi | 25 November 2011

(Komik) Ngimpii !!

Berhati-hatilah dalam bertindak, karena apa yang kita perbuat akan ‘melukis’ citra kita di hadapan masyarakat banyak. citra yang terlanjur buruk akan membuat orang lain menyimpulkan bahwa apapun yang kita lakukan adalah salah.

Jadi buat para ‘petinggi’ mari perbaiki citra dngn kerja nyata, seperti semboyan “Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat..”

Al-Fharizi
Kartun diambil dari :  zona-ketawa-kita.blogspot.com

Oleh: Harits Al-Fharizi | 25 November 2011

(Komik) Senjata Makan Tuan

Keserakahan sering membuat kita tidak jernih dalam berfikir dan bisa membuat kita kehilangan rasa malu juga harga diri.

Bahkan membuat diri kita terlihat lucu sekali

mari tersenyum, dengan apapun keadaanmu…

Al-Fharizi
kartun di ambil dari : zona-ketawa-kita.blogspot.com

Oleh: Harits Al-Fharizi | 25 November 2011

Alat Untuk Melihat Tembus Tembok

“Sudahkah anda tahu, bahwa seorang insinyur muda berbakat telah menemukan suatu alat untuk melihat tembus tembok?” Tanya seorang profesor kepada temannya yang berprofesi sama dengannya.

“Wah…, saya belum tahu tentang itu. Lalu apa nama alat itu? Tanya temannya dengan nada semangat.

Lalu profesor pertama itu dengan serius menjelaskan kepada rekannya, “Alat itu, dia sebut Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 20 November 2011

Lupa

Seorang pasien mendatangi seorang dokter untuk berkonsultasi serta mengobati penyakit pelupanya. Oleh dokter, si pasien itu diberi beberapa kapsul obat untuk dikonsumsi.

Satu bulan kemudian, pasien itu mendatangi dokter itu lagi dan berkata,

“Satu bulan yang lalu dokter memberikan beberapa kapsul obat untuk meningkatkan daya ingat saya..”

“Iya benar, apakah ada peningkatan pak?”

“Mmm.. Saya lupa memakannya dok…”

**********

Dari anekdot di atas kita bisa mengambil pelajaran mengenai LUPA. Lupa bahwa kita lupa adalah lupa yang Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 25 Oktober 2011

Salah Sangka

Dalam suatu perjalanan kereta api Jakarta-Jogja, seorang anak muda duduk berhadap-hadapan dengan seorang nenek. Selama lebih dari setengah jam, si anak muda itu sibuk mengunyah-ngunyah permen karetnya dan si nenek terus mencondongkan kepalanya ke wajah anak muda itu.

Dan, akhirnya berkatalah si nenek,
“Nak, terima kasih atas usahamu Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori