Oleh: Harits Al-Fharizi | 8 Februari 2011

Sweet February?


14 Februari sebuah perayaan ‘Pesta’, namun tentu saja aku tak pernah merayakan apa yang mereka sebut sebagai Hari Kasih Sayang itu. Aku pun tak pernah mengatur waktu, lalu pergi ke suatu tempat khusus, berdua dengan ‘cinta’. Tidak, Tak akan pernah ada makan malam dengan dihiasi kerlap kerlip lilin dan diiringi lagu-lagu romantis yang mengalun syahdu. Itu semua tidak akan pernah ada.

Bagiku, setiap hari adalah kasih dan sayang. Berbagi untuk semua dan selamanya. Karena setiap hari yang ku lalui adalah istimewa. Sebab waktu yang telah berpulang tak akan terulang.

Bukan. ini bukan soal karena ada ‘cinta’ nomor dua, tiga, empat atau yang kesekian. Ini bukan tentang siapa nomor berapa. Karena bagiku hidup bukan matematika dan statistik. Apalagi sekadar ranking. Dan ketika tahun demi tahun berlalu, aku toh tetap mencoba setia dengan yang Satu. Bagiku cinta bukan untuk ditakar dan ditimbang berdasarkan keuntungan. Cinta bukan sekadar untung dan rugi.

Terkadang Ketidaktahuan, dan ketidakfahaman memang membuat ku gamang. Tapi bukankah hidup selalu demikian. Toh pada akhirnya aku akan kalah menyerah di ujung hari. Hidup hanya menunda kekalahan, begitu seru Chairil Anwar, seorang sastrawan yang kukagumi karya-karyanya.

Siang dan malam datang silih berganti. Begitu juga pasang dan surut. Datang dan pergi. Selalu ada dua sisi dalam kehidupan. Maka menikmati dan menghadapi semua itu dengan apa adanya, adalah cara terbaik untuk menjalani hidup yang sekedar mampir atau sekedar bersandar ini.

Banyak yang mengartikan cinta sebagai kebersamaan jiwa dan raga. Namun bagiku cinta adalah apa yang tersembunyi di dalam hati, tak peduli berapa jarak yang memisahkan, tak peduli berapa waktu yang berlalu tuk memisahkan, karena toh cintaku pada yang Satu, tetap slalu coba ku pertahankan, dan aku slalu bersama dengan cintaku dalam hatiku. Seperti halnya Matahari dan bulan toh tak pernah bersama dalam satu langit — di waktu yang sama. Tapi hidup ini membutuhkan mereka. Sebagaimana hidup kita memerlukan hujan dan panas. Musim gugur dan musim semi.

bersyukurlah dan berbahagialah. Sebab siapakah yang dalam hidup ini tak ingin bahagia. Aku? Kamu? Rasanya kita semua mendamba bahagia. Tapi apa sebenarnya bahagia. Proses atau tujuan?

Bahagiaku mungkin tak sama dengan bahagiamu. Tapi aku tak hendak memaksakan kehendakku. Bahagiaku adalah ketika aku bisa selalu dekat dengan cintaku yang Satu, bagiku dekat tak harus saling dekap, namun dekat adalah perasaan dalam hati, sebuah rasa yang menentramkan.

Bahagiaku adalah seperti senyum sederhana, senyum yang selalu mengembang walau terkadang persolan hidup tak mudah untuk dihadapi, namun dengan tersenyum, aku percaya bahwa cintaku pada yang Satu, tak akan meninggalkanku sendirian membeku dalam kesepian.

Maka, di hari yang mereka sebut sebagai Hari Kasih Sayang itu, aku hanya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tak ada yang mesti diperingati, tak ada pesta dansa-dansi, namun aku percaya harapan selalu punya tempat dan aku yakin pada waktu yang tepat, aku akan bertemu dengan cintaku yang Satu.

Seperti halnya seorang lelaki berbadan hitam legam yang disiksa tuannya lantaran memilih cintanya yang Satu dan melepaskanbatu-batu berhala, lelaki itu dicambuki di tengah padang pasir ketika matahari sedang panas-panasnya, namun ia masih tetap tersenyum dalam hati sambil berbisik Ahad… Ahad.. Ahad… Satu… Satu… Satu…

Harapan adalah semangat bagi lelaki berbadan hitam legam itu, ia tak lagi merasakan panas terik matahari di tengah padang pasir, bahkan ketika punggungnya dicambuk dan perutnya ditindih dengan batu besar, yang ia rasakan adalah nikmat, cinta kepada Ahad, cinta kepada yang Satu, Esa.

Begitulah, aku sangat ingin meniru cinta lelaki berbadan hitam legam itu. Lelaki yang merayakan kasih dan sayang setiap harinya. Karena ia yakin cinta-Nya tak akan meninggalkannya sendiri.

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Harits Azzam
Catatan Pinggir Jalan
Tugu Ngayogjokarto


Responses

  1. nice note bro!!!

  2. bahasa’na bagusss
    iyah ane sepakat setiap hari adalah kasih dan sayang🙂
    lelaki brebadan hitam legam itu pasti Bilal Bin Rabah yach
    inspiratif!!!

  3. smpet bngung dgn kalimat ‘pada yg Satu’
    aq kira ‘seseorang’, eeee trnyata maknax Tuhan toch,,,,

    nice !!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: