Oleh: Harits Al-Fharizi | 6 Oktober 2012

Melukis Wajah Cinta

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Aku ingin mecintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono, (1989)

Dewasa ini, keanekaragaman arti cinta semakin sulit diterka dalam setiap peristiwa-peristiwa yang mengirinya. Sinetron bilang cinta, pembunuhan ‘menghunuskan’ cinta, bahkan koruptor pun ‘menyelipkan’ cinta dan seakan tak mau kalah iklan pun ikut-ikutan menyatakan cinta. Seolah cinta selalu menjadi alasan dalam setiap tindakan. Lalu, bagaimana Sapardi ‘melukis’ cinta sederhananya?

Sebelumnya harus saya akui secara pribadi, puisi ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan puisi cinta pada umumnya yang penuh akan puja dan puji dan kalimat yang melangit bahkan amat terlalu (baca lebay). Dalam puisi ini, Sapardi justru menekankan pada kesederhanaan bersajak. Namun dalam kesederhanaannya kita tetap akan bisa melihat kedalaman ‘lukisan’ perasaan sang penulis.

Mengutip dalam kamus besar Bahasa Indonesia ‘sederhana’ memiliki arti : sedang, bersahaja, tak banyak seluk beluk, tak rumit dan lain sebagainya. Maka bila kita dihubungkan pada sajak ini, Seakan ada perbandingan yang sangat nyata. Pada baris pertama pada bait ke satu dan kedua, ada kalimat pernyataan.

Aku Ingin Mencintaimu dengan sederhana

“Aku ingin..” kalimat itu seperti mengungkapkan suatu harapan untuk bisa berbuat lebih. Namun Sapardi juga seakan menghadirkan kesederhanaan dengan kalimat lanjutannya “… mencintaimu dengan sederhana” Sapardi seakan juga ingin melukis wajah cinta yang berkeinginan kuat namun tetap sederhana, cinta tanpa ‘embel-embel’, bukan cinta yang pasif namun juga bukan progresif, nafsu atau sesuatu yang memaksakan. Sapardi benar-benar melukis cinta itu dengan wajah yang sangat sederhana, tulus sepenuh hati tanpa manipulasi.

Namun pada baris ke satu dan kedua pada kedua bait puisi itu seakan ada pertentangan pada Baca Lanjutannya…

Iklan
Oleh: Harits Al-Fharizi | 21 Agustus 2012

Temani Bocah Itu

Seorang bocah mengadu pada hujan
Tulang dadaku bertambah satu, katanya
Kemarin saat senja baru saja dihitungnya
Mungkin perhitunganya keliru bisik hujan

Coba kau tanya ibu
Ibu telah tiada
Waktu aku menyapa dunia
Lirihnya dalam hati yang memilu

Jangan tanya tentang ayah, sergapnya
Karena ayah telah telah pergi entah kemana
Bahkan saat aku masih dalam rahim ibu
Hatinya kian memilu

Hujan miris menatapnya
Bocah itu telanjang biarkan hujan jilatinya
Kembali dihitung tulang-tulangnya
Yang tunjukkan kebanggan di tubuh kecilnya

Salam, Harits
Oleh-oleh sepulang dari Panti Asuhan Cahaya Mentari

Oleh: Harits Al-Fharizi | 21 Agustus 2012

Do’a

Aku tak sungguh mengenal-Mu
Namun surat ini terlanjur terkirim untuk-Mu
Ke alamat-Mu : tempat yang asing bagiku

izinkan aku kembali membaca peta
Menuju kasih-Mu meski terbata
Memohon hidayah-Mu hingga di batas asa

Salam, Harits

Oleh: Harits Al-Fharizi | 21 Agustus 2012

Perempuan di Persimpangan Hati

Surat itu telah lama ia selipkan di balik kutangnya
Menguning sudah putih kertasnya dicumbui usia
Sama seperti kerut-kerut kulit yang hiasi wajahnya

Namun perempuan itu tak pernah peduli
Hari barganti hari hingga saat ini
Ia masih saja duduk di persimpangan hati

Perempuan dengan selipan surat di balik kutangnya itu
Selalu bercerita pada senja, laki-lakinya akan kembali
Aku pun hanya bisa membuang nafas, Ah.. Laki-laki..
Masih sajakah kau bertanya akan arti setianya?

Salam, Harits

Puisi untuk Utari
terima kasih untuk ceritanya
maaf, saya hanya bisa membalas dengan puisi ini

“Satu harapan bisa menghidupkan ribuan impian”
(insyaAllah)

Oleh: Harits Al-Fharizi | 21 Agustus 2012

Bisu (2)

Aku hanya akan duduk diam-diam
Menikmati badai yang menggelegak dari sudut matamu
Aku hanya akan menghirup dalam-dalam
Hembusan angin dari setiap kata yang keluar dari mulutmu

Keluarkan semua kuasamu, keluarkan
Dan biarlah aku tetap duduk diam-diam
Merenunginya dalam-dalam tanpa dendam
Setiap caci maki yang kau ludahkan

Aku hanya akan menunggu
Menunggu diriku
Lenyap perlahan-lahan
Bersama badaimu yang menggelamkan

 

Harits

Oleh: Harits Al-Fharizi | 13 Agustus 2012

Jika Siang-Malam

jika,
siang Kau jadikan malam
dan malam tetaplah malam
:aku lupa pada-Mu

jika,
malam Kau jadikan siang
dan siang tetaplah siang
:aku pergi meninggalkan-Mu

jika,
siang tetaplah siang
dan malam tetaplah malam
:aku kehilangan-Mu

 

Salam, Harits

Oleh: Harits Al-Fharizi | 13 Agustus 2012

Tuhan, Ajari Aku Membaca

Tuhan..
Permintaanku pada-Mu
Cukup satu saja
:Ajari aku membaca !
Karena aku adalah kata
Yang belum mengerti makna

Salam, Harits

Oleh: Harits Al-Fharizi | 19 Juni 2012

Sang Pembawa Berita

Undzur ma qoola walaa tandzur man qoola
(Ali Bin Abi Thalib)

Kutipan di atas memang terlihat sangat sederhana. Namun bagi saya kutipan itu seperti kata-kata ‘magic’ yang seakan ‘menyihir’ saya untuk tidak pernah meremehkan orang lain dan menerima segala perkataan dan nasihat dari orang-orang yang mungkin terlihat –maaf- tidak penting.

“Undzur ma qoola walaa tandzur man qoola”. Walaupun simple dan terdiri dari dua kalimat yang isinya Fi’il, Fail dan Maf’ul tapi kalau kita mau sedikit menelaah dan menafsirkannya lebih luas InsyaAllah kita akan dapatkan makna arti yang sesunguhnya.

Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan’. Begitu arti secara harfiahnya, dalam kehidupan sehari-hari mungkin hanya sedikit dari kita yang mampu menerapkannya. Perlu digaris bawahi kalimat diatas ditekankan pada Obyek bukan pada subyek atau pelaku.

Ada sebuah kisah sederhana yang berkaitan dengan hal ini.

******

Suatu ketika di hutan pinggiran suatu dusun, sebuah rombongan sirkus menggelar tendanya dan mempersiapkan pertunjukan.

Suatu hari, tepat sebelum suatu pertunjukan dimulai, entah bagaimana terjadi kebakaran di semak-semak di pinggir perkemahan sirkus tersebut. Angin bertiup dengan kencang ke arah dusun. Angin yang kencang juga membesarkan kobaran api dengan cepat. Kata pemilik sirkus, harus ada seseorang yang memperingati masyarakat dusun tersebut tentang kebakaran hutan ini. Kalau api mencapai dusun, maka akan jatuh korban harta benda yang besar.

Seorang badut, masih lengkap dengan pakaian dan make-up badutnya ( karena bersiap untuk pertunjukan ) segera berlari menyambar sepeda hias yang seharusnya dipakai dalam pertunjukan. Tanpa membuang waktu, badut tersebut mengayuh sepedanya secepat mungkin menuju dusun tersebut.Beruntung dusun tersebut terletak di dataran yang lebih rendah, sehingga si badut dapat mencapai dusun tersebut sebelum api yang berkobar mencapai dusun.

Si badut berteriak-teriak dengan lantang sambil bersepeda berkeliling alun-alun, ‘kebakaran hutan!!! Cepat selamatkan diri dan keluarga kalian!!!’

Namun masyarakat dusun yang melihat dan mendengar teriakan si badut tersebut malah berkerumun dan menertawakan si badut yang berpakaian dan beraut wajah lucu. Mereka menonton badut tersebut sambil bertepuk tangan.

Akhirnya kobaran api pun mencapai dusun tersebut, dan menyebabkan kebakaran besar. Teriakan histeris dan panik mewarnai usaha masyarakat dusun untuk melarikan diri. Korban jiwa dan harta benda tak dapat dielakkan.

Si badut mengayuh kembali sepedanya ke perkemahan sirkus dengan sedih karena peringatannya tidak didengarkan.

******

Seperti kutipan di atas ‘Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan’ Namun realitanya seringkali kita menganggap Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 20 Mei 2012

Salam, Untuk Mereka yang Terlupakan

Kita mungkin sangat ‘mengenal’ para bintang sepakbola seperti Leonel Messi, Cristiano Ronaldo, Didier Drogba atau para pelatih hebat semisal Alex Fergusson, josep Guardiola dan Jose Mourinho, Ya kita sangat ‘kenal’ mereka, karena di setiap pertandingan sepakbola, kita hanya menonton yang terlihat dan menjadi sorotan kamera dan memang mereka adalah aktor utama teater sepakbola di lapangan, keindahan sebuah pertandingan sangat bisa ditentukan oleh racikan tangan dingin si pelatih dan kelihaian olah bola pemainnya.

Sesekali terlihat di lapangan para pemain mengambil atau dilempari sebotol air minum, baik saat istirahat ataupun disela-sela pertandingan. Hampir tak pernah kamera menyorot siapa yang menyediakan air minum bagi para pemain hebat itu, karena mungkin ia dianggap bukan bagian penting dari sepakbola atau bahkan puluhan ribu penonton di stadion pun tak pernah mau mengenal sekadar nama si Waterboy itu.

Namun Waterboy tetaplah melakukan tugasnya dengan baik, meskipun ia tahu tak banyak pemain yang mau berterima kasih padanya, serta sedikit pula penonton yang memperhatikan pekerjaannya dan tak pernah sosoknya jadi pemberitaan dan pembicaraan. Namun satu hal yang ia yakini, perannya sangat berarti bagi para aktor di lapangan.

Anda bisa membayangkan, bila banyak actor lapangan hijau itu terkena dehidrasi, bisa-bisa pertandingan terhenti sebelum semestinya terhenti 🙂

**********

Kawan, yakinlah ada seseorang atau lebih dalam kehidupan kita yang terus melakukan sesuatu yang sangat berarti dalam perjalanan hidup kita. Kadang kita menganggapnya tak berarti, bahkan mungkin kita tak menyadari kehadirannya. Bisa jadi diam-diam ia mendoakan kita dalam setiap kesempatan, tanpa kita tahu, tanpa kita sadari.

Kita memang tak pernah sendirian meraih sukses dalam hidup ini, ada peran banyak orang yang menyertai, meskipun kecil dan tak selalu tampak di hadapan kita.

Inspirasi dari Film The Waterboy

Salam, Harits

Oleh: Harits Al-Fharizi | 20 Mei 2012

Pemenang Tak Pernah Putus Asa

” Jangan sekali-kali kamu memperkecil cita-citamu,
karena sesungguhnya aku tidak melihat seseorang yang terbelenggu
kecuali karena ia tidak memiliki cita-cita.”
(Umar bin Khattab)

Final liga champion 2012, chelsea harus ‘bertamu’ ke Allianz Arena, yang merupakan kandang Bayern Munchen dan juga tempat yang dianggap paling ‘angker’ bagi sebagian klub-klub top Eropa.

Tak cukup sampai disitu, chelsea ternyata tak harus berhadapan dengan 11 pemain lawan, tetapi juga ratusan ribu penonton yang merupakan fans setia The Bavaria (julukan Bayern Munchen) dan jutaan pasang mata penonton televisi yang juga meragukan the blues bisa menggondol piala Champion di Allianz Arena. Bahkan, Chelsea juga tidak akan diperkuat empat pilarnya yaitu captain John Terry, Raul Meireles, Ramires dan juga Ivanovic. Maka tak berlebihan bila berbagai media dan bursa taruhan menjagokan Robben CS bisa menghancurkan pasukan Di Matteo itu dan memenangkan liga Champion.

Bermain bertahan ala Italia sejak menit awal, sehingga selalu ‘digempur’ lawan, bahkan sempat tercatat penguasaan bola Chelsea hanya 35% dibanding Munchen yang 65%, . Prediksi kekalahan semakin nyata, terlebih setelah the blues kebobolan lebih dulu di menit 83 oleh gol yang dibuat Muller. Tapi semangat perjuangan ditunjukkan Drogba Cs, hingga menyamakan keadaan dengan skor 1-1 di akhir pertandingan. The blues memaksa Bayern Munchen untuk bermain di babak tambahan, berkat goal yang dibuat Drogba di menit 88 menjelang injury time.

Pertandingan di waktu normal berkesudahan 1-1, dan dilanjutkan dengan babak extra time yang juga tak mengubah skor. Penentuan juara akhirnya dilakukan lewat adu tos-tosan. Penendang terakhir The Blues, Didier Drogba, memastikan gelar buat tim asal London itu. Malam itu pun Chelsea berpesta untuk gelar liga Champion pertamanya. Congratulations to Chelsea!

*******

Kawan, dalam hidup kadang kita menghadapi situasi yang serba tertekan dan menekan, diragukan dan hanya dipandang sebelah mata oleh banyak orang, terlebih saat kekuatan berkurangpenuh keterbatasan. Namun saat semangat juang tak redup, maka kita punya kesempatan menjawab keraguan orang banyak dan meraih kemenangan.

Teruslah berjuang kawan, jangan pernah menyerah sampai waktu terakhir sampai dunia berakhir.

Salam, Harits

Oleh: Harits Al-Fharizi | 19 Mei 2012

Terkenal?


Media saat ini hanya punya satu bahasa: “Jika kamu tidak terkenal, maka kamu bukan siapa-siapa.”, bahkan yang paling mengerikan dan juga menggelikan adalah bahwa menjadi terkenal saat ini tidak harus karena kebaikan. Ia bisa membuat yang buruk tampil ‘terkesan’ baik, alami, manusiawi dan bagian dari hak asasi. Sebaliknya, ia bisa pula menampilkan orang-orang baik dalam format yang kumal, lusuh dan tak punya semangat hidup.

Media bahkan telah berhasil ‘menguasai’ pola pikir kita untuk mengakui bahwa orang-orang besar ialah mereka yang berulang kali muncul di televisi, tampil di atas panggung dan berlagak di atas pentas. Maka segalanya pun menjadi sangat terbatas dan hanya milik orang-orang kelas ‘atas’. Padahal di sisi lain, Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 19 Mei 2012

The Real Love Story

Madinah dalam keadaan siaga penuh. Umat Muslim mencium gelagat perang pasukan Abu Shufyan. Situasi sangat genting. Dalam situasi seperti itu, seorang sahabat, Hanzhalah, dengan penuh ketenangan dan keyakinan justru menikah.

Hanzhalah menikahi Jamilah, kekasihnya, di malam yang keesokannya perang Uhud berkobar. Ia meminta izin Nabi Sallallahu alahi wassalam untuk bermalam bersama istrinya. Nabi pun mengijinkan. Tak seorangpun tahu, nasib seseorang di medan peperangan, termasuk bagi pengantin baru seperti Hanzhalah. Karena itu, ia memanfaatkan waktu berbulan madu sepenuhnya.

Tatkala tubuh Hanzhalah dan istrinya bermandikan keringat bulan madu, sungguh di mata pengantin baru ini dunia seolah menjadi milik berdua. Memadu segenap cinta di ujung waktu yang tersisa. Ranjang nan hangat dan tatapan istri yang memikat nyaris membuat si pengantin melangkah pun berat. Saat fajar menjelang, panggilan berperang pun datang berkumandang…
“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!”

Genderang perang itu begitu lantang berkumandang. Hanzhalah tergugah dari pelukan cinta sang istri. Zirah (Seragam perang) perang dikenakan dan pedang disematkan. Sesaat, ditatapnya wajah sang istri dengan penuh rasa cinta. Wajah bahagia itu diusapnya dan sebuah ciuman hangat mendarat di keningnya. Satu tarikan nafas panjang, Hanzhalah pamit ke medan perang. Sungguh, bila bukan karena ghirah (semangat beragama) yang membuncah di dadanya, takbir perang itu takkan disambutnya. Suara itu laksana pekik surgawi yang lama dinanti.

Dengan derai airmata sang istri yang seolah tak rela, Hanzhalah bergegas ke medan perang. Sang istri sungguh mengerti. Di atas mahligai suci perkawinan mereka, cinta kepada Ilahi dan Nabi bertahta dan menyisihkan segalanya. Ditatapnya punggung Hanzhalah yang tertutup zirah untuk terakhir kalinya. Bibirnya lirih berzikir, “Yaa Mutakabbir, sambutlah suamiku dengan iringan takbir!”

Alangkah gagahnya Hanzhalah di medan perang Uhud. Ayunan pedangnya deras berkelebatan menebar kematian. Lihatlah! Wajah Hanzhalah bersinar cemerlang. Raut kebahagiaan terpancar di parasnya. Seolah wajah itu berkata, “Istriku ridha dengan kepergianku!” Tatapan matanya sungguh meruntuhkan nyali orang-orang Quraisy. Di sela-sela pekik takbir yang bersahutan, tubuh dan zirah perang Hanzhalah, basah oleh keringat. Keringat bulan madu semalam, tiada artinya dengan keringat Uhud.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, berhasil menelikung gerakan Hanzhalah. Ia berhasil menebas tengkuknya dari belakang. Darah pun muncrat. Tubuh gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah. BRUUK!!! Luka-lukanya begitu parah. Hujan tombak dan panah dari segala penjuru menorehkan syahid di tubuh yang basah kuyup itu. Para sahabat yang berada di sekitar dirinya bergegas memberikan pertolongan. Sayang, mereka terlambat.

Tak berapa lama kecamuk perang surut. Sepi memagut hari. Perihnya luka-luka yang menganga mendekap sukma. Hanzhalah gugur sebagai syuhada di medan Uhud. Jasadnya terkulai di Uhud.

Terlihat semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Terjadi hujan lokal. Tubuhnya terangkat dan terbolak-balik seolah air hujan hendak memasahi sekujur tubuhnya. Kilauan cahaya putih membias di sela-sela tetesan hujan. Akhirnya, hujan mereda. Cahaya terang mulai padam. Tampak iringan kemilau cahaya putih melesat ke langit. Tubuh Hanzhalah kembali turun ke bumi.

Subhanallah! Hujan lokal deras mengguyur Hanzhalah? Para sahabat yang menyaksikan basahnya tubuh dan zirah perang Hanzhalah, tak urung keheranan. Mereka lantas membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw. Diiringi wajah para sahabat yang bertanya, Rasulullah meminta agar istri Hanzhalah segera dihadirkan.

Begitu tiba di hadapan Nabi, beliau bercerita tentang Hanzhalah. Kepada janda Hanzhalah, Nabi bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”

Wanita itu tertunduk. Rona pipinya merah bersemu. Dengan senyum tipis penuh malu, ia berkata: “Suamiku Hanzhalah, pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”

Rasulullah kemudian berkata kepada semua yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Jenazah Hanzhalah telah dimandikan para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istri Hanzhalah dari kalangan bidadari yang datang menjemput. Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, duhai suami kami tercinta. Sungguh, lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita ke peraduan.”
*********

Sungguh, Romeo tak perlu mati demi Juliet. Qais tak perlu menjadi majenun karena dilamun rindu pada Laila. Romeo masih bisa meneruskan hidupnya tanpa Juliet. Qais tetap bisa waras tanpa Laila. Kawan, engkau pasti bertanya. Kulihat wajah-wajah penuh tanda tanya. Ada apa dengan Hanzhalah, Romeo-Juliet dan Qais-Laila? Apa hubungan di antara mereka? Kenapa kisah mereka dituturkan di sini? Apa esensinya?

Kawan, engkau mungkin amat mengenal Romeo-Juliet. Novel satir gubahan William Shakespeare memang mendunia. Berapa versi Romeo-Juliet telah difilmkan dan meraup pundi-pundi dolar. Engkau mungkin bertanya siapa Qais dan Laila? Pun, segelintir orang mafhum dengan Hanzhalah. Kawan, semua ini kisah tentang cinta.

Apa yang membedakan Hanzhalah, Romeo-Juliet dan Qais-Laila? Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 14 April 2012

Kangen

Tahun kesekian saat subuh menyapa, ku pungut satu per satu gelembung jatuh, dari mata, dari dada. Seperti halnya kemarin, matahari lagi dan lagi membuatku nyaris tak berdaya dan nyaris tak bernyawa. Ku panggili namanya. Ku kubur Tanya dalam diam dan hampa.

Oh.. butakan mata dari gumpal-gumpal masa yang melembaga! Setiap pejam adalah perih yang menyiksa, entah sampai kapan kan begini. Dada mengelupas seiring butir-butir jam pasir di atas meja.

Tahun kesekian saat subuh menyapa. Aku tak yakin mampu menahan gempur cuaca. Gelap adalah teman sekaligus bencana dan bulan tak lagi sesetia dulu. Setiap malam selalu melahirkan keinginan-keinginan maya, fatamorgana. Ketakutan-ketkutan yang tak berjeda. Berkecamuk dalam durja dan serpihan-serpihan yang tak nyata.

Tahun kesekian saat subuh menyapa. Lagi-lagi, angin tak juga memberi tanda. Tapi tetap kukumpulkan linang air mata. Menjadi telaga. Kurajut do’a, semoga kelak menjadi peta yang nyata.

Kupanggili namamu… kupanggili namamu…
Rindu, merrindu biru dalam kalbu..

Meski aku tak yakin, apakah kesempatan itu masih ada? Namun aku tak akan jera. Ku batukan dada, ku batukan dada…

-Puisi untuk Ayah-
Sejak ku sapa dunia, aku tak sedikitpun tau dimana jejakmu
Semoga kelak aku bisa menemuimu, apapun itu, kau tetap Ayahku..!

Salam, Harits

Oleh: Harits Al-Fharizi | 31 Maret 2012

(Anekdot) Kata Bijak Bapak

http://enjoy4shop.wordpress.com/

Kisah ini dimulai ketika hari pertama masuk sekolah, setelah para murid berpuas menikmati libur panjang kenaikkan kelas. Seperti biasa, pagi itu ketika pelajaran akan dimulai, terjadilah obrolan ringan antara ibu guru dengan murid-muridnya

Bu Guru             : Anak anak, bagimana perasaan kalian saat ini?
Murid-murid   : Senang sekali bu!
Bu Guru             : Baiklah, sebelum ibu memulai pelajaran, ibu akan menanyakan kata-kata bijak yang sering
Diucapkan oleh orang tua kalian?
Ya.., dimulai dari Kamu Joko..
Joko                   : Kata bapak saya “Sesulit apapun hidup ini, kita harus hadapi dan tetap LANJUTKAN!“
Bu Guru            : Oooh.., Bagus sekali Joko..
Bapak kamu pasti Simpatisan part*i demok**t ya?
Joko                   : Betul sekali bu..
Bu Guru            : Pantesan, sekarang kamu Joki..!
Joki                    : kata bapak saya “Hidup ini harus kuat dan tahan banting seperti BANTENG!“
Bu Guru            : Wah super sekali Joki..
Pasti bapak kamu anggota part*i PD*P
Joki                    : Betul banget bu…
Bu Guru            : Pantesan, sekarang kamu Juki..!
Juki                    : Kata bapak saya “Lebih baik Memberi Daripada Diberi..”
Bu Guru            : Wooow..Ini baru hebat !!
Bapak kamu pasti ustadz ya?
Juki                    : Hmm… Bukan e Bu..
Bu Guru            : Oooh..,pasti bapak kamu seorang yang taat ibadahnya kan?
Juki                    : Hmmm… Bukan juga e Bu..
Bu Guru            : Pasti bapak kamu orang yang baik hati dan suka menolong sesama ya?
Juki                    : Hmmm… Sekali lagi, Bukan itu juga e Bu…

Bu Guru pun tampak kecewa dan kesal.

Bu Guru           : Terus apa dong Juki..!!!

Juki tampak malu-malu untuk berterus terang. Namun akhirnya memberanikan diri untuk menjawab.

Juki                   : Nganu Bu…sebenarnya…
Bapak saya itu seorang Baca Lanjutannya…

Oleh: Harits Al-Fharizi | 28 Januari 2012

Jemputan Terakhir untuk Munir

Tujuh tahun, berita itu nyaris tak terdengar lagi.

Suara-suara yang dulu lantang berkumandang tentang doa dan bunga-bunga. Seperti halnya ratusan Malaikat yang mesti kembali berdoa tentang kisah perjuangan lama. Bulan September berdarah, airmata menetes jatuh ke tanah, ada yang hilang atau ada yang tersisa di dalam kalbu kita.

Tujuh tahun, kenangan itu akan terus bergaung

Sebuah sejarah tetap setia menitipkan pesan di antara gema, kisah masa lalu dan keringat yang membakar pada dada dan kaki yang menjejak. Kita merenungi cerita ganas puluhan tahun yang kerap kita tanyakan. Ada yang membara, namun ada juga yang punah dalam kalbu kita.

(Sementara, angin terus memadamkan api yang masih menyala. Zaman membekukan perjalanan, semua menggantung di almanak berdebu. Bara sekam di dada, haruskah Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori